SEJARAH BANDARA ADI SUMARNO SOLO

 

BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bandara Adi Soemarmo merupakan salah satu pintu gerbang udara utama di wilayah Jawa Tengah. Sebagai bandara yang memiliki peran penting dalam konektivitas nasional dan internasional, sejarahnya mencerminkan perkembangan transportasi udara, peran militer, dan dinamika sosial ekonomi di wilayah Solo dan sekitarnya.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana sejarah awal pendirian Bandara Adi Soemarmo?

Apa peran strategis bandara ini dalam konteks sejarah Indonesia?

Bagaimana perkembangan bandara dari masa ke masa?

1.3 Tujuan Penelitian

Menjelaskan sejarah Bandara Adi Soemarmo dari masa pendiriannya hingga peranannya saat ini dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi.

1.4 Manfaat Penelitian

Memberikan pemahaman historis tentang pentingnya Bandara Adi Soemarmo bagi masyarakat dan negara.


BAB II: SEJARAH AWAL BANDARA ADI SOEMARMO

2.1 Pendirian dan Nama Bandara

Bandara ini awalnya merupakan lapangan udara militer yang dibangun oleh tentara Jepang pada masa penjajahan. Nama "Adi Soemarmo" diambil dari nama Letkol Pnb. (Anumerta) Adi Soemarmo Wiryokusumo, seorang perintis Angkatan Udara Republik Indonesia.

2.2 Peran Militer di Masa Awal

Digunakan sebagai pangkalan udara militer, terutama oleh TNI AU. Pada awalnya, akses sipil masih sangat terbatas.

2.3 Konversi ke Bandara Sipil

Transformasi fungsi dimulai saat kebutuhan penerbangan komersial di Solo meningkat. Pemerintah mulai membuka akses sipil sekitar era 1980-an.


BAB III: PERKEMBANGAN DAN MODERNISASI

3.1 Perkembangan Fasilitas

Pembangunan terminal penumpang, landasan pacu, dan infrastruktur pendukung lainnya dimulai secara bertahap sejak tahun 1990-an.

3.2 Perluasan Fungsi Bandara

Mulai menerima penerbangan internasional, terutama umrah dan haji. Kemudian, menjadi embarkasi haji untuk wilayah Jawa Tengah bagian selatan.

3.3 Integrasi Transportasi dan Pengelolaan Baru

Kereta bandara dan sistem transportasi darat mulai terkoneksi. Bandara ini kemudian dikelola oleh PT Angkasa Pura I dan bekerja sama dengan TNI AU dalam pengelolaan.


BAB IV: PERAN STRATEGIS BANDARA DALAM KONTEKS NASIONAL

4.1 Bandara dan Perekonomian Daerah

Meningkatkan arus wisatawan domestik dan asing ke destinasi seperti Candi Borobudur, Keraton Surakarta, dan Batik Laweyan.

4.2 Fungsi Geopolitik dan Pengamanan

Karena letaknya yang strategis, bandara ini masih memiliki peran militer aktif dan digunakan untuk kepentingan pertahanan nasional.

4.3 Masa Pandemi dan Adaptasi

Perubahan besar terjadi saat pandemi COVID-19. Bandara harus beradaptasi dengan regulasi baru dan penurunan penumpang secara drastis.


BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan          

Bandara Adi Soemarmo mengalami evolusi dari lapangan udara militer menjadi bandara komersial yang modern dan strategis. Sejarahnya mencerminkan perkembangan nasional, baik dari sisi pertahanan maupun ekonomi.

5.2 Saran

Diperlukan dokumentasi sejarah yang lebih lengkap dan peningkatan pelayanan agar bandara ini dapat terus bersaing dan berperan dalam pembangunan nasional.


Top of Form

Bottom of Form

 

 

 


Puing Pesawat Wapres Malawi Ditemukan, Tidak ada yang Selamat

 >>>Pesawat yang membawa  rombongan Wakil Presiden (Wapres) Malawi, Saulos Chilima dan sembilan orang lainnya, telah ditemukan pada hari Selasa (11/6), sehari setelah pesawat tersebut hilang dalam cuaca buruk. Presiden Malawi Lazarus Chakwera mengatakan tidak ada yang selamat dalam tragedi itu.pesawat itu disebut jatuh di hutan.

"Pesawat itu telah ditemukan dan saya sangat bersedih untuk memberi tahu Anda semua, ini ternyata menjadi tragedi yang mengerikan," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi, dikutip dari kantor berita AFP, Selasa (11/6/2024).

Foto-foto yang dibagikan kepada AFP oleh seorang anggota tim penyelamat militer menunjukkan para personel militer berdiri di lereng berkabut dekat puing-puing yang memuat nomor registrasi pesawat militer Malawi, Dornier 228-202K.

Puing-puing Pesawat Wapres Malawi yang Hilang Telah Ditemukan

Pesawat militer yang membawa Chilima (51) dan sembilan orang lainnya tersebut hilang pada hari Senin (10/6), setelah gagal mendarat di kota Mzuzu, Malawi utara, karena cuaca buruk dan disuruh kembali ke ibu kota, Lilongwe.

.Rombongan tersebut berangkat sekitar pukul 9:00 pagi (0700 GMT) dari Lilongwe pada hari Senin (10/6) untuk menghadiri pemakaman seorang mantan menteri kabinet.

Mantan ibu negara Malawi Shanil Dzimbiri juga ikut serta

Ketika pesawat hilang, kami berhasil menemukan menara terakhir tempat transmisi telepon, itulah sebabnya kami memusatkan upaya kami di daerah itu," kata Moses Kunkuyu, juru bicara pemerintahan Presiden Lazarus Chakwera pada konferensi pers.

Komandan Angkatan Darat Malawi Jenderal Paul Valentino Phiri mengatakan bahwa negara-negara lain, termasuk negara tetangga Malawi, membantu upaya pencarian tersebut, dengan dukungan termasuk helikopter dan drone.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Lilongwe mengatakan pihaknya bekerja sama dengan pemerintah Malawi untuk "menawarkan semua bantuan yang tersedia" termasuk penggunaan pesawat militer C-12>>>.


Sumber : detiknews


Bandara Kertajati Majalengka


Bandar Udara Internasional Kertajati  (  Kertajati International Airport  ) adalah bandar udara yang terletak di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Indonesia. Bandar udara ini merupakan bandar udara terbesar kedua di Indonesia berdasarkan luas setelah Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, yang berlokasi di Kabupaten Majalengka, kira-kira 68 kilometer di timur Bandung. Bandar udara ini dibangun untuk melayani sebagai bandar udara internasional kedua di wilayah metropolitan Bandung Raya dan juga melayani Cirebon Raya.

Bandar udara ini diresmikan operasinya pada tanggal 24 Mei 2018, dengan Pesawat Kepresidenan Indonesia mendarat sebagai yang pertama di bandar udara ini. Bandar udara ini memiliki landasan pacu tunggal sepanjang 3.000 meter dan dapat menampung pesawat berbadan lebar seperti boeing 777. Bandar udara baru ini berfungsi sebagai penyangga untuk membantu memudahkan lalu lintas udara di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta. Setelah selesai, Bandar udara ini akan memiliki kapasitas total hingga 29 juta penumpang setiap tahun, dengan banyak ruang untuk ekspansi. Bandar udara ini juga akan mengoperasikan terminal kargo dengan perkiraan resmi pada 1,5 juta ton kargo pada tahun 2020. Hingga saat ini, operasional Bandara Kertajati masih dikatakan tidak maksimal. Hampir tidak ada rute penerbangan di Bandara Kertajati sehingga menjadi sangat sepi. Akses yang terbatas juga menjadi salah satu faktor. Salah satu upaya untuk memaksimalkan operasional bandara Kertajati adalah merealisasikan pemindahan rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Kertajati dengan pertimbangan kendala transportasi. Oleh karena itu, dibangunlah Jalan Tol Akses Bandara Kertajati dari Jalan Tol Cipali. 

Pembangunan Bandara Kertajati sendiri sudah direncanakan sejak era Presiden Megawati Soekarnoputri. Studi kelayakan Bandara ini sebenarnya sudah ada sejak 2003, izin penetapan lokasi pun dilakukan sejak 2005. Saat itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan sanggup mendanai sendiri pembangunan bandara dengan APBD. Namun, Pemprov Jawa Barat tak kunjung merealisasikan pembangunan bandara tersebut hingga 2011. Setelah dilakukan peninjauan ulang, pembangunan bandara ternyata membutuhkan alokasi APBN sehingga proyek ini tidak ada kejelasan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Ia menyebut selama tujuh tahun tidak ada kegiatan fisik apapun karena izin penetapan hangus akibat pekerjaan pembangunan yang tidak kunjung dimulai. Pekerjaan baru dimulai tahun 2014 untuk pengerjaan pembersihan lahan dan pondasi yakni di tahun saat presiden Joko Widodo terpilih.Tidak hanya itu saja, Bandara Kertajati juga dimasukkan dalam Program Strategis Nasional (PSN). Pembangunan resmi berjalan sejak 2015 hingga 2017 kemudian dilakukan dengan menggunakan anggaran Kementerian Perhubungan. Adapun guna mengoperasionalkan bandara tersebut, Kementerian Perhubungan kemudian pada 22 Januari 2018 memfasilitasi penandatanganan perjanjian kerja sama penyelenggaraan jasa kebandarudaraan di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) antara Pemprov Jabar, PT BIJB dan PT Angkasa Pura 2.Bandara ini diperkirakan menelan investasi mencapai Rp2,6 triliun.

Sumber : Wikipedia

 

 

KEMAYORAN AIRPORT

        Flashback The history of the former Jakarta Kemayoran Airport,is one of the relics of the
colonial era. We can see from a historical perspective the
establishment of Kemayoran Airport in Jakarta from several bibliographical sources
that have been recorded. That KemayoranAirport was once one of the First
International Aviation Airports in Indonesia. 

Historical evidence of Kemayoran Airport, which was built in 1934, was officially opened on July 8, 1940, although it was recorded that on July 6, 1940, Kemayoran airport had started operating with the first aircraft to land the DC-3 Dakota type belonging to the Dutch East Indies airline company, KNILM. ( Koningkelije Nederlends Indische Luchvaart  Maatschapii) which was flown from Tjililitan airfield (now Halim Perdanakusuma).

            This aircraft was recorded operating in Kemayoran until the end of the operation period. The airport with the code JKT stopped operating on January 1, 1983, and officially stopped operating on June 1, 1984. Meanwhile, since 1975 international flights have been temporarily diverted at Halim Perdanakusuma Airport.The entry of the Japanese colonial period in 1942-1945 which continued with the reign of the Dutch NICA until it was finally managed by the Government of the Republic of Indonesia in 1950. And in the end in 1958 (Djawatan Civil Aviation) Kemayoran Airport was handed over to be managed by a state company "Angkasa". Pura"

 Kemayoran in 1960. And the management of Kemayoran Airport carried out

 by BMUN changed its name to "Perum Angkasa Pura I" until the end of operation 

of Kemayoran Airport in 1984.

During the Dutch Government 1940-1942 Kemayoran Airport was managed as an International Airport. And its management was trusted by KNILM by the Dutch 

government until the Japanese colonial period. Two days before the inauguration 

on July 6, 1940, the first aircraft to land was a DC-3 belonging to KNILM which 

was flown from Tjililitan airfield (now Halim Perdanakusuma). The DC-3 aircraft with PK-AJW registration was also the first to depart from 

Kemayoran Airport for Australia a day later. On the day of its inauguration, 

KNILM held several of its aircraft. On the Apron there are DC-2 Univer, DC-3 Dakota, Foker F-VIIb 3m, Grumman G-21 Goose, de Havilland, DH-89 Dragon Rapid, and Lockheed L-14 Super Electra aircraft. And about two months later KNILM brought in new aircraft such as the Douglas DC-5 and the Sikorsky S-43 Babby Clipper. The journey and development of Kemayoran Airport entered Indonesia's historic 

phases from the reign of the Dutch East Indies, the occupation of Japan to 

the period of Indonesian independence, especially in the aviation world, from civilian aircraft to military aircraft with piston engines, propellers, and turbojets that have landed at Kemayoran Airport. The planes that have landed at the airport at Kemayoran Airport from Fokker F-VIIb-3 aircraft with a piston engine, Fokker Freindship with turbo engine to Fokker F-28 with jet engine, Aircraft type DC-3 Dakota, Early generation wide body aircraft such as the Boeing 747 200 series, Aircraft type DC-10, and Airbus A-300. And military planes that have landed at the Kemayoran Airport airfield include: Aircraft Type Glenn Martin B-10 and B-12, Koolhoven FK51 aircraft type, Brewster F-2 Buffalo aircraft type, Lochkeed L-18 Lodestar aircraft type, Type of aircraft Curtless F-36 Hawk, Type of aircraft Fakker CX, and Type of aircraft Boeing B-17 Flying Fortress. We do not escape the historical record of coverage of dark events that we got from several media news sources that in the world of aviation at Kemayoran Airport. Among other things, the Beechcraft type aircraft had an accident when landing at Kemayoran Airport, then the Convair340 type aircraft that landed without wheels, the DC-3 type aircraft that caught fire, and the DC-9 type aircraft which suffered a broken body when landing on the runway. 

The Fokker F-27 during take-off dived and swerved downwards until it burst into

 flames during a practice flight. And it was also recorded in the world of flights from Kemayoran Airport that an airplane that once took off from this airport but never returned home.

Some historical records that we have collected from several sources, 

bibliography and media by several drafting teams who initiated the establishment 

of the National Museum of Kemayoran Airport Jakarta to share information and

knowledge. Hopefully all the stories and information recorded in this history can be

 immortalized in an ornament and diorama in a museum to be known by the general

 public and as a tourist attraction that provides learning that contains the

 historical value of the journey of the Indonesian nation. The birth of an idea that developed on the noble ideals of several Indonesian

 children who are members of the Formulating Team to take part in realizing 

the Ind8onesian government's program in preserving an asset of the historical 

value of the Indonesian nation, so through this social media blog website, 

every step and effort us to be known by the generations of Indonesian children. 

 


 
 
 
 
 
 


 

BANDARA KEMAYORAN JAKARTA

         Kilas balik Sejarah bekas Bandara kemayoran Jakarta,merupakan salah satu peninggalan masa penjajahan.Kita bisa melihat dari kacamata sejarah tentang berdirinya Bandara kemayoran di Jakarta dari beberpa sumber daftar pustaka yang telah banyak mencatat. Bahwa Bandara Kemayoran pernah menjadi salah satu Bandara Penerbangan Internasional yang Pertama di Indonesia.

Bukti sejarah Bandara Kemayoran yang dibangun pada tahun 1934,Secara resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940,Walaupun tercatat pada tanggal 6 Juli 1940 bandara udara kemayoran sudah mulai beroperasi dengan pesawat udara pertama yang mendarat jenis DC- 3 Dakota milik perusahan penerbangan Hindia Belanda, KNILM ( Koningkelije Nederlends Indische Luchvaart Maatschapii) yang diterbangkan dari lapangan udara Tjililitan (sekarang Halim Perdanakusuma). Tercatat pesawat ini beropersi di Kemayoran sampai masa berakhirnya masa operasi.

Bandar udara dengan kode JKT mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983, dan resmi berhenti beroperasi pada tanggal 1 Juni 1984. Sedangkan sejak tahun 1975 penerbangan internasional untuk  sementara di alihkan di Bandara Halim Perdanakusuma.

Masuknya masa penjajahan Jepang pada tahun 1942 -1945 yang berlanjut masa pemerintahan NICA Belanda hingga akhirnya dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950. Dan pada akhirnya  pada tahun 1958 (Djawatan Penerbangan Sipil) kemudain di serahkannya Bandara Kemayoran untuk dikelola oleh sebuah Perusahanan Negara "Angkasa Pura" Kemayoran pada tahun 1960. Dan pengelolaan Bandara Kemayoran yang dilakukan oleh BMUN berganti nama menjadi "Perum Angkasa Pura I" hingga akhir operasinya Bandara Kemayoran pada tahun 1984.

Pada masa Pemerintahan Belanda 1940-1942 Bandara Kemayoran dikelola menjadi Bandar Udara Internasional. Dan pengelolaannya dipercaya oleh KNILM oleh pemerintah Belanda sampai pada masa penjajahan Jepang. Dua hari sebelum peresmian pada tanggal 6 Juli 1940,  pesawat pertama yang mendarat adalah DC-3 milik KNILM yang diterbangkan dari lapangan udara Tjililitan (sekarang Halim Perdanakusuma).

Pesawat yang berjenis DC-3 berregristrasi PK-AJW juga yang pertama bertolak dari Bandara Kemayoran menuju Australia sehari kemudian. Pada hari peresmiannya KNILM menggelar beberapa pesawat miliknya. Di Apron terdapat pesawat DC-2 Univer, DC-3 Dakota, Foker F -VIIb 3m, Grumman G-21 Goose, de Havilland, DH-89  Dragon Rapid, dan Lockheed L-14 Super Electra. Dan sekitar dua bulan kemudian KNILM mendatangkan pesawat baru seperti Douglas DC-5 dan Sikorsky S-43 Babby Clipper.

Perjalanan dan perkembangan Bandara Kemayoran memasuki masa fase-fase bersejarah Indonesia dari masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudkan Jepang hingga memasuki masa kemerdekaan Indonesia, terutama sekali dalam dunia penerbangan, mulai dari pesawat-pesawat sipil hingga pesawat militer bermesin piston, propeler, hingga turbojet pernah mendarat di Bandara Kemayoran.


Pesawat-pesawat yang pernah mendarat di lapangan udara Bandara kemayoran dari

  1. Pesawat jenis Fokker F-VIIb-3 dengan mesin torak, 
  2. Fokker Freindship dengan mesin turbo hingga Fokker F-28 yang bermesin jet,
  3.  Jenis pesawat DC-3 Dakota, 
  4. Pesawat berbadan lebar generasi awal seperti Boeing 747 seri 200,
  5. Jenis pesawat DC-10, dan
  6. Airbus A-300.

Dan pesawat-pesawat militer yang oernah mendarat di lapangan udara Bandara Kemayoran antara lain  :

  1. Jenis Pesawat Glenn Martin B-10 dan B-12,
  2. Jenis pesawat Koolhoven FK51,
  3. Jenis pesawat Brewster F-2 Buffalo,
  4. Jenis pesawat Lochkeed L-18 Lodestar,
  5. Jenis pesawat Curtless F-36 Hawk,
  6. Jenis pesawat Fakker CX, dan
  7. Jenis pesawat Boeing B-17 Flying Fortress.

Tidak luput dalam catatan sejarah liputan peristiwa kejadian kelam yang kami dapatkan dari beberapa sumber berita media bahwa dalam dunia penerbangan di Bandara Kemayoran. Antara lain pesawat jenis Beechcraft pernah mengalami kecelakaan pada saat menandarat di Bandara Kemayoran, kemudian pesawat jenis Convair340 yang mendarat tanpa roda, pesawat jenis DC-3 yang terbakar, dan pesawat jenis DC-9 yang mengalami patah badan ketika mendarat di landasan pacu, pesawat jenis Fokker F-27 pada saat tinggal landas menukik dan membelok kebawah hingga hancur terbakar pada saat penerbangan latihan. Dan tercatat pula dalam dunia penerbangan dari Bandara Kemayoran sebuah pesawat yang pernah tinggal landas dari bandara ini namun tidak pernah kembali pulang.

Beberapa catatan sejarah yang kami himpun dari beberapa sumber daftar pustaka dan media oleh beberapa team perumus yang memprakarsi berdirinya Museum Nasional Bandara Kemayoran Jakarta untuk berbagi informasi pengetahuan.

Semoga semua cerita dan informasi yang tercatat dalam sejarah ini dapat diabadikan dalam sebuah ornamen dan diorama di sebuah Museum untuk dapat di ketahui oleh masyarakat umum dan sebagai objek wisata yang memberikan pembelajaran yang memuat nilai sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Lahirnya suatu ide gagasan yang berkembang pada cita-cita luhur dari beberapa anak bangsa Indonesia  yang tergabung dalam team perumus untuk ikut andil dalam mewujudkan program pemerintah Indoensia dalam melestarikan sebuah aset bernilai sejarah bangsa Indonesia ini, maka melalui media sosial website blog inilah setiap langkah dan usaha kami untuk diketahui oleh para generasi anak bangsa Indonesia.

 

BANDARA KEMAYORAN JAKARTA


 
Menelisik perjalanan sejarah bekas Bandara kemayoran di Jakarta, kita bisa melihat dari kacamata sejarah tentang berdirinya Bandara kemayoran di Jakarta dari beberpa sumber daftar pustaka yang telah banyak mencatat. Bahwa Bandara Kemayoran pernah menjadi Bandara Penerbangan Internasional pertama di Indonesia.
Bukti sejarah Bandara Kemayoran yang dibangun pada tahun 1934,Secara resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940, meski tercatat pada tanggal 6 Juli 1940 bandara udara kemayoran sudah mulai beroperasi dengan pesawat udara pertama yang mendarat jenis DC- 3 Dakota milik perusahan penerbangan Hindia Belanda, KNILM ( Koningkelije Nederlends Indische Luchvaart Maatschapii) yang diterbangkan dari lapangan udara Tjililitan (sekarang Halim Perdanakusuma). Tercatat pesawat ini beropersi di Kemayoran sampai masa berakhirnya masa operasi.

Bandar udara dengan kode JKT mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983, dan resmi berhenti beroperasi pada tanggal 1 Juni 1984. Sedangkan sejak tahun 1975 penerbangan internasional untuk  sementara di alihkan di Bandara Halim Perdanakusuma.

Masuknya masa penjajahan Jepang pada tahun 1942 -1945 yang berlanjut masa pemerintahan NICA Belanda hingga akhirnya dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950. Dan pada akhirnya  pada tahun 1958 (Djawatan Penerbangan Sipil) kemudain di serahkannya Bandara Kemayoran untuk dikelola oleh sebuah Perusahanan Negara "Angkasa Pura" Kemayoran pada tahun 1960. Dan pengelolaan Bandara Kemayoran yang dilakukan oleh BMUN berganti nama menjadi "Perum Angkasa Pura I" hingga akhir operasinya Bandara Kemayoran pada tahun 1984.


Pada masa Pemerintahan Belanda 1940-1942 Bandara Kemayoran dikelola menjadi Bandar Udara Internasional. Dan pengelolaannya dipercaya oleh KNILM oleh pemerintah Belanda sampai pada masa penjajahan Jepang. Dua hari sebelum peresmian pada tanggal 6 Juli 1940,  pesawat pertama yang mendarat adalah DC-3 milik KNILM yang diterbangkan dari lapangan udara Tjililitan (sekarang Halim Perdanakusuma).

Pesawat yang berjenis DC-3 berregristrasi PK-AJW juga yang pertama bertolak dari Bandara Kemayoran menuju Australia sehari kemudian. Pada hari peresmiannya KNILM menggelar beberapa pesawat miliknya. Di Apron terdapat pesawat DC-2 Univer, DC-3 Dakota, Foker F -VIIb 3m, Grumman G-21 Goose, de Havilland, DH-89  Dragon Rapid, dan Lockheed L-14 Super Electra. Dan sekitar dua bulan kemudian KNILM mendatangkan pesawat baru seperti Douglas DC-5 dan Sikorsky S-43 Babby Clipper.

Perjalanan dan perkembangan Bandara Kemayoran memasuki masa fase-fase bersejarah Indonesia dari masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudkan Jepang hingga memasuki masa kemerdekaan Indonesia, terutama sekali dalam dunia penerbangan, mulai dari pesawat-pesawat sipil hingga pesawat militer bermesin piston, propeler, hingga turbojet pernah mendarat di Bandara Kemayoran.

Pesawat-pesawat yang pernah mendarat di lapangan udara Bandara kemayoran dari

  1. Pesawat jenis Fokker F-VIIb-3 dengan mesin torak, 
  2. Fokker Freindship dengan mesin turbo hingga Fokker F-28 yang bermesin jet,
  3.  Jenis pesawat DC-3 Dakota, 
  4. Pesawat berbadan lebar generasi awal seperti Boeing 747 seri 200,
  5. Jenis pesawat DC-10, dan
  6. Airbus A-300.
Dan pesawat-pesawat militer yang oernah mendarat di lapangan udara Bandara Kemayoran antara lain  :
  1. Jenis Pesawat Glenn Martin B-10 dan B-12,
  2. Jenis pesawat Koolhoven FK51,
  3. Jenis pesawat Brewster F-2 Buffalo,
  4. Jenis pesawat Lochkeed L-18 Lodestar,
  5. Jenis pesawat Curtless F-36 Hawk,
  6. Jenis pesawat Fakker CX, dan
  7. Jenis pesawat Boeing B-17 Flying Fortress.

Tidak luput dalam catatan sejarah liputan peristiwa kejadian kelam yang kami dapatkan dari beberapa sumber berita media bahwa dalam dunia penerbangan di Bandara Kemayoran. Antara lain pesawat jenis Beechcraft pernah mengalami kecelakaan pada saat menandarat di Bandara Kemayoran, kemudian pesawat jenis Convair340 yang mendarat tanpa roda, pesawat jenis DC-3 yang terbakar, dan pesawat jenis DC-9 yang mengalami patah badan ketika mendarat di landasan pacu, pesawat jenis Fokker F-27 pada saat tinggal landas menukik dan membelok kebawah hingga hancur terbakar pada saat penerbangan latihan. Dan tercatat pula dalam dunia penerbangan dari Bandara Kemayoran sebuah pesawat yang pernah tinggal landas dari bandara ini namun tidak pernah kembali pulang.

Beberapa catatan sejarah yang kami himpun dari beberapa sumber daftar pustaka dan media oleh beberapa team perumus yang memprakarsi berdirinya Museum Nasional Bandara Kemayoran Jakarta untuk berbagi informasi pengetahuan.

Semoga semua cerita dan informasi yang tercatat dalam sejarah ini dapat diabadikan dalam sebuah ornamen dan diorama di sebuah Museum untuk dapat di ketahui oleh masyarakat umum dan sebagai objek wisata yang memberikan pembelajaran yang memuat nilai sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Lahirnya suatu ide gagasan yang berkembang pada cita-cita luhur dari beberapa anak bangsa Indonesia  yang tergabung dalam Team Perumus untuk ikut andil dalam mewujudkan program pemerintah Indoensia dalam melestarikan sebuah aset bernilai sejarah bangsa Indonesia ini, maka melalui media sosial website blog inilah setiap langkah dan usaha kami untuk diketahui oleh para generasi anak bangsa Indonesia.

Sejarah Singkat Garuda Indonesia

 Seiring semakin meningkatnya permintaan jasa industri penerbangan, Perusahaan terus mengembangkan jaringan penerbangan hingga ke kota-kota pertumbuhan ekonomi dan wisata baru di wilayah Barat dan Timur Indonesia. Sejarah penerbangan komersial Indonesia dimulai saat bangsa Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaannya. Penerbangan komersial pertama menggunakan pesawat DC-3 Dakota dengan registrasi RI 001 dari Calcutta ke Rangoon dan diberi nama “Indonesian Airways” dilakukan pada 26 Januari 1949. Pada tahun yang sama, 28 Desember 1949, pesawat tipe Douglas DC-3 Dakota dengan registrasi PK-DPD dan sudah dicat dengan logo “Garuda Indonesian Airways”, terbang dari Jakarta ke Yogyakarta untuk menjemput Presiden Soekarno. Inilah penerbangan yang pertama kali dengan nama Garuda Indonesian Airways. Setahun kemudian, 1950, Garuda Indonesia resmi menjadi Perusahaan Negara. Pada masa itu, Perusahaan memiliki 38 buah pesawat yang terdiri dari 22 jenis DC-3, 8 pesawat Laut Catalina, dan 8 pesawat jenis Convair 240. Armada Perusahaan terus berkembang, dimana untuk pertama kalinya Garuda Indonesia membawa penumpang jamaah Haji ke Mekkah pada tahun 1956. Perjalanan terbang ke kawasan Eropa dimulai Garuda Indonesia pada tahun 1965 dengan tujuan akhir di Amsterdam.

Tahun 1980 Sepanjang tahun 1980-an, Garuda Indonesia melakukan revitalisasi dan restrukturisasi berskala besar untuk operasi dan armadanya. Hal ini mendorong perusahaan untuk mengembangkan program pelatihan yang komprehensif untuk awak kabin dan awak darat Garuda Indonesia dan mendirikan fasilitas pelatihan khusus di Jakarta Barat dengan nama Garuda Indonesia Training Center.

Tahun 1990 Armada Garuda Indonesia dan kegiatan operasionalnya mengalami revitalisasidan restrukturisasi besar-besarandi sepanjang tahun 1980-an. Hal ini menuntut Perusahaan merancang pelatihan yang menyeluruh bagi karyawannya dan mendorong Perusahaan mendirikan Pusat Pelatihan Karyawan, Garuda Indonesia Training Center di Jakarta Barat.

Tahun 2000 Seiring dengan upaya pengembangan usaha, di awal tahun 2005, Garuda Indonesia memiliki tim manajemen baru, yang kemudian membuat perencanaan baru bagi masa depan Perusahaan. Manajemen baru Garuda Indonesia melakukan evaluasi ulang dan restrukturisasi Perusahaan secara menyeluruh dengan tujuan meningkatkan efisiensi kegiatan operasional, membangun kembali kekuatan keuangan yang mencakup keberhasilan Perusahaan dalam menyelesaikan restrukturisasi utang, menambah tingkat kesadaran para karyawan dalam memahami pelanggan, dan yang terpenting memperbarui dan membangkitkan semangat karyawan Garuda Indonesia.

Tahun 2010 Penyelesaian seluruh restrukturisasi utang Perusahaan mengantarkan Garuda Indonesia siap untuk mencatatkan sahamnya ke publik pada 11 Februari 2011. Perusahaan resmi menjadi perusahaan publik setelah penawaran umum perdana atas 6.335.738.000 saham Perusahaan kepada masyarakat. Saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 11 Februari 2011 dengan kode GIAA. Salah satu tonggak sejarah penting ini dilakukan setelah Perusahaan menyelesaikan transformasi bisnisnya melalu kerja keras serta dedikasi berbagai pihak. Per 31 Desember 2013, struktur kepemilikan saham Garuda Indonesia sebagai emiten dan Perusahaan publik adalah Negara Republik Indonesia (69,14%), karyawan (0,4%), investor domestik (24,34%), dan investor internasional (6,12%).

Untuk mendukung kegiatan operasionalnya, Garuda Indonesia memiliki 5 (lima) Entitas Anak yang fokus pada produk/jasa pendukung bisnis Perusahaan induk, yaitu PT Abacus Distribution Systems Indonesia, PT Aero Wisata, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT Aero Systems Indonesia, dan PT Citilink Indonesia. Dalam menjalani kegiatan operasionalnya, Perusahaan didukung oleh 7.861 orang karyawan, termasuk 2.010 orang siswa yang tersebar di Kantor Pusat dan Kantor Cabang.

Garuda Indonesia, pada Januari 2015, mengoperasikan 134 pesawat yang terdiri dari 2 pesawat Boeing 747-400, 11 pesawat Airbus A330-300, 11 pesawat Airbus A330-200, 5 pesawat Boeing 737 Classic (seri 300/500), 76 pesawat Boeing 737-800NG, 15 pesawat CRJ1000 NextGen, 8 pesawat ATR72-600, 6 pesawat Boeing 777-300ER, dan 30 pesawat Citilink yang terdiri dari 24 pesawat Airbus A320-200, 5 pesawat Boeing 737-300 serta 1 pesawat Boeing 737-400.

Menghadirkan standar baru kualitas layanan dalam industri air travel, Garuda Indonesia saat ini melayani penerbangan ke 64 destinasi pilihan yang terdiri dari 44 kota di area domestik dan 20 kota di area internasional.

Selain melayani penerbangan di rute-rute tujuan yang dioperasikan, saat ini Garuda Indonesia juga melaksanakan perjanjian “code share” dengan 14 maskapai internasional.

Selain itu, pada tanggal 5 Maret 2014, Garuda Indonesia secara resmi bergabung dengan aliansi global, SkyTeam, sebagai bagian dari program perluasan jaringan internasionalnya. Dengan bergabung bersama SkyTeam, penumpang Garuda Indonesia kini dapat terbang ke 1.064 tujuan di 178 negara yang dilayani oleh semua maskapai anggota SkyTeam dengan lebih dari 15.700 penerbangan per hari dan akses ke 564 lounge di seluruh dunia.

Sebagai bagian dari upaya Perusahaan untuk terus meningkatkan layanan kepada pengguna jasa, Garuda Indonesia memperkenalkan layanan khas “Garuda Indonesia Experience”, yang menghadirkan kerahmahtamahan, budaya, dan segala hal terbaik dari Indonesia melalui kelima panca indera, yaitu sight, sound, taste, scent, dan touch, untuk diimplementasikan dalam layanan pre-journey, pre-flight, in-flight, post-flight, dan post-journey.

Garuda Indonesia juga merupakan salah satu maskapai yang terdaftar sebagai IATA Operational Safety Audit (IOSA) Operator dan menerapkan standar kemanan dan keselamatan yang setara dengan maskapai internasional besar anggota IATA lainnya. Garuda Indonesia menerima sertifikat IOSA pada tahun 2008 lalu.

JUDUL POSTINGAN

Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur

 Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan sekto...