Pilot Senior: Pesawat Cessna 172 Diduga Jatuh


Bandung, (Analisa). Pilot senior Saleh Sudrajat (55) menduga pesawat Cessna 172 skyhawk milik sekolah penerbangan PT Nusa Flying School yang hilang kontak sejak kemarin, jatuh (crash) di tempat yang tidak diketahui.
"Kemungkinan besar crash atau jatuh kemudian fatal," kata Saleh Sudrajat, ketika dihubungi melalui telepon selularnya, Kamis.

Dugaan tersebut, kata Salah Sudrajat, didasarkan pada waktu pesawat yang mengangkut tiga orang tersebut terbang pada waktu pagi hari atau sekitar pukul 10.00 WIB.

"Yang saya ketahui, pesawat itu kemarin mulai hilang kontak jam 10 pagi. Kalau pagi hari, keadaan cuaca untuk terbang masih relatif masih aman. Berbeda kalau sore hari terbangnya. Jadi kalau karena faktor alam menjadi penyebabnya kecil," ujar Kang Saleh, sapaan akrab Saleh Sudrajat.

Menurutnya, penyebab hilang kontak pesawat Cessna 172 skyhawk milik sekolah penerbangan PT Nusa Flying School bisa dikarena banyak faktor.

"Dalam penerbangan itu banyak kemungkinannya. Bisa karena human error, kompasnya melenceng, atau mungkin pesawat itu tidak memakai ELT atau emergency locator transmitters," ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman dirinya sebagai seorang pilot jika memang pesawat hilang kontak atau arah terbang di Jalur Pantura bisa disiasati dengan mengikuti alur di Pantai Utara (Pantura).

"Kalau terbang dari Cirebon ke Bandara Halim bisa ikuti Jalur Pantura, lebih mudah dan tidak sampai kehilangan arah. Tinggal menyusuri Pantura karena lebih mudah dievaluasi," kata Kang Soleh.

Pesawat Cessna 172 milik sekolah penerbangan PT Nusa Flying School hilang kontak dalam perjalanan dari Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, menuju Cirebon, Jawa Barat, Rabu (16/11).

Pesawat ini ditumpangi tiga orang, terdiri dari instruktur dan dua siswa penerbang yang sudah berada di tahap akhir.

Ketiga orang tersebut ialah Kapten Partogi Sianipar (25), kedua siswa penerbangan Muhammad Fikriansyah (18), Agung Febrian (30) siswa penerbang. (Ant)

sbr ; harian analisa

Pesawat Cessna Jatuh di Wilayah Cirebon


CIREBON, KOMPAS - Sebuah pesawat latih jenis Cessna C172-PK NIP milik sekolah penerbangan Nusa Flying yang terbang dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, tujuan Bandar Udara Budiarto di Curug, Tangerang, dilaporkan jatuh di sekitar wilayah Cirebon, Jawa Barat, Rabu (16/11) pagi. Pesawat itu dilaporkan hilang kontak sejak pukul 08.53.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan mengatakan, pesawat latih berawak tiga orang itu berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul 07.40, dan dijadwalkan tiba di Bandara Budiarto, Curug, pukul 09.33. Pesawat itu semestinya melintasi wilayah udara Cirebon sekitar pukul 08.53. ”Namun, pada waktu yang dijadwalkan, pesawat tidak bisa dikontak oleh petugas yang ada di Bandar Udara Cirebon (Cakrabuana),” katanya saat dikonfirmasi melalui telepon, Rabu.

Pesawat itu ditumpangi Kapten Pilot Partogi yang sekaligus menjadi instruktur dalam pelatihan terbang itu. Dua orang lainnya yang belum bisa dipastikan identitasnya adalah siswa terbang Nusa Flying.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan SAR Nasional Gagah Prakoso mengatakan, lima tim penyelamat yang merupakan tim gabungan dari Kementerian Perhubungan, Badan SAR Nasional, Nusa Flying International, dan Wings Air telah dikerahkan mencari lokasi jatuhnya pesawat.

”Ada lima pesawat yang digunakan, yakni 2 pesawat Cessna dari Nusa Flying, 1 helikopter dari Basarnas, 1 pesawat 212 Aviocar dari Kemhub, dan 1 pesawat Cessna dari Wings Air,” kata gagah.

Kepala Bandara Cakrabuana, Cirebon, Emil Taufiq menjelaskan, pesawat Cessna umumnya hanya membawa bahan bakar untuk jarak terbang selama empat jam. Hingga Rabu malam, pihaknya belum berhasil berkomunikasi dengan awak dalam pesawat itu sehingga kemungkinan besar pesawat latih Cessna itu terjatuh di area lintasan dari Jakarta hingga Cirebon.

”Dari kenyataan ini, kemungkinan besar pesawat itu jatuh,” ujar Emil. (REK)

Pesawat Cessna 172 Diduga Jatuh di Purwakarta


Liputan6.com, Cirebon: Keberadaan pesawat latih jenis Cessna 172 milik Sekolah Penerbangan Nusa Flying International yang hilang kontak sejak Rabu pagi belum ditemukan. Kontak terakhir pesawat dengan petugas menara pemantau Bandar Udara Cakrabuana Penggung, Cirebon, Jawa Barat, terjadi kemarin sekitar pukul 08.19 WIB. Namun, pesawat yang dijadwalkan tiba di cirebon pada pukul 08.53 WIB itu tidak juga muncul.

Tim SAR yang dibantu sejumlah pesawat milik sekolah penerbangan hingga kini belum menemukan pesawat yang ditumpangi tiga orang itu, yakni instruktur Kapten Partogi Sianipar dan dua siswa penerbangnya Muhamad Fikriansyah serta Agung Febrian.

Kamis (17/11) siang, Tim SAR sempat menangkap sebuah sinyal yang diduga berasal dari pesawat nahas itu. Menurut sinyal yang diduga berasal dari alat emergency locator transmitter (ELT) milik pesawat Cessna 172 yang hilang kontak itu, pesawat diperkirakan berada di kawasan kaki Gunung Tangkuban Perahu, Purwakarta, Jabar.

Sementara itu, suasana duka menyelimuti keluarga dan orangtua Kapten Partogi Sianipar, instruktur yang juga pilot pesawat nahas itu. Di perumahan Villa Lampiri Indah Blok A2, Kelurahan Jatibening Baru, Kecamatan Pondok Gede, Bekasi, Jabar, pihak keluarga telah mempersiapkan kursi tamu dan membereskan rumah meski tetap berharap sang putra kembali dengan selamat.

Duka juga terasa di kediaman Agung Febrian Prastowo di kompleks Bukit Permai No.16, Bintaro, Pesangrahan, Jakarta Selatan. Istri dan anak salah satu siswa penerbangan ini bahkan beberapa kali jatuh pingsan mendengar kabar hilangnya pesawat.

Sebelum berlatih terbang pada Rabu pagi, menurut keluarga Agung yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara itu selalu ingin berfoto dan dekat dengan istri serta kedua anaknya yang masih balita. Keluarga yang akan berangkat ke Subang hari ini masih berharap Agung bisa kembali berkumpul dengan keluarga dalam kondisi selamat.(ADO)

Ini Desain Pesawat Terbang Masa Depan NASA



Tak hanya mengurus masalah luar angkasa, Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA juga ikut berkontribusi mengembangkan desain pesawat penumpang dalam program Fundamental Aeronautic NASA, April 2010.

Melalui penelitian selama 18 bulan, NASA memvisualisasikan pesawat penumpang masa depan. Desain pesawat baru ini akan diterapkan 20-25 tahun dari sekarang.

Ada beberapa ide desain segar -- meski dalam pandangan pertama terlihat kuno.

Alih-alih mengadopsi bentuk pesawat dalam fiksi ilmiah, desain pesawat baru ini tak beda drastis dengan bentuk pesawat yang sudah ada.


Namun, jika dilihat dengan seksama, ada perbedaan signifikan -- terobosan baru ada di kerangka pesawat dan penggunaan teknologi akan membuat pesawat masa depan lebih tenang, tak berisik, lebih bersih, dan efisien bahan bakar. Juga lebih mengedepankan kenyamanan penumpang.

Dengan melihat desain NASA, Anda juga bisa melihat bentuk ultramodern dengan keramik atau gabungan serat, tabung karbon, kabel fiber optik, lapisan kulit pesawat yang bisa memperbaiki diri, mesin listrik hibrida, sayap lipat, badan pesawat terbang dobel, dan jendela virtual.

"Berdiri di depan pesawat masa depan ini, Anda mungkin tak bisa membedakannya dengan pesawat konvensional. Namun, pengembangannya dilakukan secara revolusioner," kata ilmuwan proyek Fundamental Aeronautics Program NASA, Richard Wahls, seperti dimuat laman NASA, Rabu 19 Mei 2010.

"Yang mengagumkan ada pada teknologinya, bukan sekedar bungkus pesawat," kata dia.

Pada Oktober 2008 lalu, NASA menyerukan pada industri dan dunia akademis untuk membayangkan konsep canggih pesawat terbang 2030-an, yang dapat mengantisipasi kebutuhan transportasi udara komersial, tapi efisien dalam menggunakan bahan bakar, juga ramah lingkungan.

NASA tidak menyebut secara pasti apakah pesawat masa depan ini akan digunakan untuk penerbangan domestik atau penerbangan internasional dengan jarak yang lebih jauh.

Empat tim bergabung dalam program ini, yakni,

1. Tim GE Aviation menuangkan konsep pesawat masa depan yang bisa mengangkut 20 penumpang. Pesawat ini bisa mengangkut penumpang dari satu lokasi ke lokasi lain -- diharapkan mengurangi kemacetan di kota metropolis.

Bentuk pesawat ini oval, dengan fitur yang meratakan aliran udara ke seluruh permukaan. Pesawat ini memiliki bahan bakar pembangkit listrik yang canggih. Mesin pesawat tak berisik, bisa lepas landas dalam waktu cepat dan tak memerlukan banyak waktu untuk menaikkan pesawat.

Jet tempur Cina jatuh di pameran dirgantara

Sebuah jet tempur Cina jatuh dan terbakar ketika ambil bagian dalam pameran dirgantara di kota Xian, Cina utara, hari Jumat (14/10).

Salah satu pilot pesawat dilaporkan berhasil selamat dalam kecelakaan ini


Tayangan televisi Cina CCTV memperlihatkan pesawat buatan Cina ini jatuh dari angkasa dan terbakar ketika menghantam Bumi.

Pilot berhasil keluar dari pesawat dengan mengaktifkan kursi pelontar dan mendarat dengan menggunakan parasut.

Namun kru lain di pesawat tersebut dilaporkan hilang.

"Tidak ada korban lain di darat," kata penyelenggara pameran dalam pernyataan tertulis seperti dikutip kantor berita AFP.

Juru bicara panitia mengatakan pesawat sebelumnya mengalami masalah teknis dan tim penyelidik telah dikirim ke lokasi kejadian.
Bukan yang pertama

Kantor berita Xinhua memberitakan pesawat yang jatuh adalah jet tempur JH-Seven Flying Leopard yang pertama kali diluncurkan pada Desember 1988.

Pesawat ini satu di antara 100 pesawat yang ikut serta dalam pameran yang diikuti sejumlah negara.

Koran People's Daily mengatakan tim aerobatik Hungaria, Swedia, Amerika Serikat, dan Lithuania diundang untuk unjuk kebolehan di pameran tiga hari tersebut.

Ini adalah kecelakaan terbaru yang melibatkan pesawat Angkatan Udara Cina.

Pada Januari 2007 sebuah pesawat militer jatuh setelah meledak di udara. Media setempat melaporkan pilot pesawat selamat.

Setahun sebelumnya pesawat milik AU jatuh di provinsi Anhui, menewaskan 40 orang.

Dua bulan sebelum kecelakaan di Anhui, satu jet tempur jatuh di Pulau Hainan di Cina Selatan dan pada 2004 jet tempur F-7 jatuh di wilayah permukiman menewaskan satu anak laki-laki.

Dua Pesawat Drone AS Jatuh di Somalia


Dua pesawat militer tak berawak AS jatuh secara terpisah di Somalia selatan di dekat perbatasan dengan Kenya, laporan Press TV.

Salah satu pesawat udara tak berawak AS jatuh di pinggiran kota Dhoobley, terletak 20 kilometer (12 mil) dari perbatasan Kenya dan sekitar 500 kilometer (312 mil) barat daya ibukota Somalia Mogadishu, pada hari Kamis kemarin (10/11).

Penduduk setempat mengatakan bahwa mereka mendengar ledakan besar setelah pesawat jatuh dan terbakar.

Kemudian masih pada hari itu, satu pesawat tak berawak AS dilaporkan jatuh di dekat kota Dhoobley. Warga setempat mengatakan mereka menyaksikan pesawat jatuh di pinggiran kota.

Somalia adalah negara keenam di mana Amerika Serikat telah menggunakan pesawat drone untuk melancarkan serangan rudal yang mematikan.(fq/prtv)

sbr : misfalah.com

Roda Pesawat Lepas, Penumpang Diam

LONDON - Sebuah pesawat penumpang terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah salah satu roda pendaratannya lepas dan terjatuh ke darat. Beberapa penumpang melihat roda itu terlepas, tetapi memutuskan diam.

Saat sedang lepas landas dan melihat keluar dari jendela pesawat, seorang penumpang menyaksikan roda pesawat terlepas. Awalnya, penumpang itu diam saja setelah melihat kejadian.

Tetapi setelah sadar bahwa tersebut dapat mengancam nyawa mereka, penumpang itu pun memberitahukan hal tersebut kepada penumpang lain yang sebangku dengannya.

"Saya tidak ingin menakutkan anda, tetapi saya kira melihat salah satu roda pesawat jatuh ke darat," pengakuan seorang penumpang kepada penumpang lainnya, seperti dikutip Daily Mail, Jumat (11/11/2011).

Setelah itu, kedua penumpang pun memanggil awak kabin dan melaporkan hal tersebut. Segera, awak kabin mengumumkan kejadian ini dan memberitahukan ada gangguan terhadap pesawat.

Saat ditanya, ternyata penumpang lain juga melihat kejadian ini tetapi mereka tetap diam tidak melaporkannya kepada awak kabin. Beberapa dari penumpang lain bahkan melihat ada percikan api di sekitar roda yang lepas itu.

Pilot pun terpaksa mendaratkan pesawat dengan roda sebelah kiri yang masih berfungsi dengan baik. Sebelum mendarat, pesawat itu terpaksa beputar di atas wilayah Bandara Exeter, Inggris untuk menghabiskan bahan bakar.

Pesawat berjenis Bombardier Q400 itu pun akhirnya mendarat dengan selamat. Kapten pilot sendiri mengaku bahwa dirinya melakukan pemeriksaan pada pesawat. Dirinya mengatakan tidak menemukan sesuatu yang aneh dari pesawat saat pemeriksaan berlangsung.
(faj)

JUDUL POSTINGAN

Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur

 Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan sekto...