BUMN Karya butuh fasilitas fiskal untuk Alutsista

M. Said Didu (ANTARA/Yusran Uccang

Jakarta (ANTARA News) - Untuk mendorong pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari dalam negeri, pemerintah diminta mengeluarkan kebijakan pemberian fasilitas fiskal dan bea masuk.

Hal itu disampaikan pengamat BUMN Muhammad Said Didu kepada ANTARA di Jakarta, Jumat, terkait rencana pengadaan alutsista dari perusahaan lokal.

Said Didu mengatakan selain pemberian fasilitas fiskal dan bea masuk, pemerintah juga diminta untuk memberikan fasilitas lainnya berupa jaminan pemerintah ke bank agar bisa dibiayai perbankan, kegiatan penelitian dan pengembangan, pendidikan sumber daya manusia serta mekanisme pengadaan secara khusus.

Menurut dia, dengan adanya pemberian berbagai kebijakan tersebut, diyakini pengadaan alutsista dalam negeri bisa berjalan dengan baik.

Selain itu juga dapat mendorong berkembangnya perusahaan BUMN khususnya di bidang industri persenjataan.

"Saya pikir rasional industri alutsista kita akan tumbuh jika didorong dengan kebijakan tersebut," kata Said.

Said mengatakan langkah pemerintah untuk melakukan pengadaan alutsista dari dalam negeri akan memberikan dampak positif terhadap Indonesia.

"Dampak positif tersebut berupa terwujudnya kemandirian secara bertahap, mendukung pertumbuhan ekonomi, terjadinya alih dan penguasaan teknologi, wahana kembalinya tenaga ahli Indonesia dari luar negeri, penampungan tenaga kerja terutama sumber daya manusia yang bekualitas serta meningkatkan pendapatan negara," katanya.

Untuk diketahui, pemerintah akan mengedepankan pengadaan alutsista dari dalam negeri, di antaranya dengan melibatkan perusahan-perusahan BUMN seperti PT Pindad dan PT PAL.
(T.KR-TRT/E008)

 sbr : antara news.com
Editor: Ruslan Burhani

TNI AD dapat Rp14 triliun pengadaan alutsista

KSAD Letjen TNI Pramono Edhie Wibowo (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf )

Magelang (ANTARA News) - Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat mendapat alokasi pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dari pemerintah sebanyak Rp14 triliun.

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo di Magelang, Jumat, mengatakan, hasil terakhir dalam sidang kabinet terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, TNI AD diberi porsi untuk pengadaan alutsista Rp14 triliun.

Ia mengatakan hal tersebut usai acara Wisuda Purnawira Perwira Tinggi TNI AD di Akademi Militer Magelang. Pada kesempatan tersebut diwisuda 166 perwira tinggi TNI AD yang telah memasuki masa pensiun, antara lain Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, dan Jenderal TNI (Purn) George Toissuta.

Menurut Pramono, anggaran tersebut antara lain akan digunakan untuk membeli tank, roket, meriam, dan helikopter.

Ia mengatakan, untuk pengadaan alutsista tersebut TNI AD telah menugaskan Wakasad TNI AD untuk melihat langsung pabrik senjata di Eropa bersama tim dari Kementerian Pertahanan.

Menurut dia, alutsista yang akan dibeli misalnya main battle tank atau tank berat yang selama ini Indonesia belum pernah memiliki. "Jika ini bisa diwujudkan maka Indonesia akan menjadi negara yang seimbang dengan negara tetangga," katanya.

Ia mengatakan, dengan kondisi perekonomian eropa yang sedang tidak baik maka mereka membutuhkan uang tunai sehingga mereka menjual senjata dengan harga murah.

Ia menuturkan, dari plafon untuk pembelian 44 tank berat, ternyata mereka menawarkan untuk pembelian 100 unit tank berat.

"Indonesia sebenarnya diuntungkan dengan situasi ekonomi Eropa kurang baik saat ini, mereka berani menjual dengan harga murah, sedangkan Indonesia butuh peralatan tersebut," katanya.

Pramono mengatakan, untuk pengadaan helikopter Apache, Indonesia dapat harga khusus, dari harga 30 juta dolar AS perunit mendapat keringanan 5 juta dolar US perunit sehingga harganya menjadi 25 juta dolar US perunit.

"Karena membeli delapan unit helikopter maka dapat menghemat dana hingga 40 juta dolar AS," katanya.

Ia mengatakan, pengadaan alutsista tersebut harus selesai tahun 2014 sesuai anggaran yang disiapkan pemerintahan saat ini. (ANT)

Editor: Desy Saputra

Indonesia Tengah Kembangkan Rantis di Pindad


JAKARTA - Indonesia sedang mengembangkan produksi kendaraan taktis (Rantis) dalam negeri di PT Pindad Bandung. Diharapkan Rantis lokal ini bisa sejajar dengan Hummer produksi Amerika Serikat (AS).

"Kita akan mengembangkan industri kendaraan taktis, ya kayak Hummer. Ini sudah dikerjakan oleh Pindad. Kita harapkan dalam waktu beberapa bulan ini selesai. Itu joint production," ujar Menhan Purnomo Yusgiantoro usai rapat soal alutsista di Istana Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (10/11).

Menurut Purnomo, Rantis ini nantinya akan digunakan oleh pasukan khusus Indonesia maupun brigade-brigade tempur TNI. Pemerintah saat ini terus berusaha mengembangkan BUMN strategis untuk mencukupi kebutuhan alutsista TNI dan Polri. Berbagai cara dilakukan, mulai dari penyertaan modal negara hingga mengembangkan pasar untuk menjual alutsista buatan Indonesia.

"Bagaimana kita mendorong agar terjadi pergeseran yang tadinya impor kemudian produksi bersama kemudian juga bisa jadi produksi dalam negeri," jelas Purnomo.

Sumber : DETIKNEWS.COM

Empat Unsur KRI Dari Koarmabar Berlatih Peran

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Thursday, November 10, 2011

Empat Unsur KRI Dari Koarmabar Berlatih Peran



JAKARTA - Empat unsur KRI dari jajaran Koarmabar, masing-masing KRI Cut Nyak Dien-375, KRI Sultan Thaha Saifudin-376, KRI Teluk Celukan Bawang-532 dan KRI Clurit-641 yang tegabung dengan seluruh unsur yang terlibat dalam latihan Armada Jaya (AJ) XXX/11 melaksanakan latihan berbagai macam peran baik peran tempur, peran bahaya udara, peran bahaya permukaan, peran bahaya bawah air serta peran-peran lainnya.

Saat melintasi Laut Jawa, keempat unsur Koarmabar beserta seluruh unsur yang terlibat dalam latihan Armada Jaya (AJ) XXX/11 juga melaksanakan latihan menembak dengan berbagai jenis senjata, mulai dari meriam Kaliber 12,7 mm sampai meriam dengan Kaliber 120 mm.

Gelar latihan Armada Jaya (AJ) XXX/11 tersebut merupakan latihan perang puncak TNI Angkatan Laut yang melibatkan 23 KRI dari Komando Armada RI Kawan Timur (Koarmatim), Komando Armada RI Kawan Barat (Koarmabar) dan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), satu Batalyon Tim Pendarat (BTP) beserta persenjataannya dari Korps Marinir (Kormar), 10 pesawat intai maritim dari Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Pusnerbal) serta unsur pendukung lainnya seperti Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal), Kesehatan, Psikolog dan hukum.

Sumber : PEN KOARMABAR

Indonesia Must Build Self warships


Surabaya - Indonesia's time to build ships independently warships and civilian vessels. As stated by the Director of Human Resources (HR) and the General, PT PAL Indonesia, Soewoko mammal, to the group of journalists from the Ministry of Defense in Jakarta, Wednesday (2 / 11).
According Soewoko, up to date as much as 70 percent of the components of ships that made PT PAL Indonesia imported. "It's really unfortunate maritime country but it seems the company ships its not supported," he said.
Soewoko expects to ship in front of all the needs of both domestic commercial vessels and warships (civilian) made in PT PAL Indonesia. "I strongly support the presence of the Strategic Defence Industry Policy Committee (KKISP) formed the government," said Soewoko.
KKISP essentially all defense equipment should be used in domestic production.
According Soewoko, the problems experienced today is the lack of sustainability ship orders from the government, including other customers.
To that end, he proposed that the government and Parliament to make laws for the continuation of war orders ship or equipment for national defense. "We need the old order, with this defense industries such as PT PAL Indonesia could live economically," he said.
Another problem, he said, is the current number of human resources (HR) PT PAL Indonesia are limited and are aged 47 years and over. In 1980 the number of employees of PT PAL Indonesia as many as 6,000 people. Now it was just 1,600 people and 80 people including experts. "The absence of regeneration of human resources due to lack of funds. However, we now begin to recruit a new HR anymore," he said.
According Soewoko, the price of a ship that made PT PAL Indonesia at least U.S. $ 220 million per unit.
He said the Philippines has ordered a warship types Landing Platform Dock (LPD) to PT PAL Indonesia. "But the construction of this ship later, 70 percent of its components are still imported," he said. LPD type ships used to transport the war equipment such as weapons, ammunition and tanks and APCs.



Sumber : SUARA PEMBAHARUAN (ALUTSISTA)

Pesawat Cargo C-17 Tiba di Denpasar

DENPASAR - Tentara Amerika Serikat (AS) beraktivitas di sekitar pesawat jenis C-17 RCH 354/33122 setibanya mereka di Bandara Ngurah Rai, Bali, Senin (7/11). Pesawat tersebut membawa berbagai perlengkapan terkait rencana kedatangan Presiden AS, Barack Obama yang akan menghadiri KTT ASEAN pada 17-19 Nopember 2011. FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana/ed/ama/1























sumber : ALUTSISTA

Airbus Hentikan Produksi Pesawat A340

Pesawat penumpang jarak jauh Airbus A340-300. 

PARIS, KOMPAS.com — Pabrikan pesawat Eropa, Airbus, akhirnya memutuskan menghentikan produksi pesawat penumpang jarak jauh Airbus A340 setelah tak mampu bersaing dengan rivalnya, Boeing 777.

"Kami telah menerima kenyataan. Kami belum menjual satu pun A340 hampir dua tahun belakangan ini," tutur Direktur Keuangan Airbus Hans Peter Ring dalam presentasi kinerja perusahaan induk Airbus, EADS, pada kuartal ketiga tahun ini, Kamis (10/11/2011).

A340 terbang pertama kali pada April 1992 dan tahun 1993 memecahkan rekor penerbangan nonstop terjauh, yakni dari Paris, Perancis, ke Auckland, Selandia Baru, yang berjarak lebih dari 18.000 kilometer.

Namun, dua tahun kemudian, Boeing dari Amerika Serikat meluncurkan B-777, pesawat yang memiliki kemampuan setara dengan A340 tetapi dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat. Boeing B-777 hanya menggunakan dua mesin jet turbofan, sementara A340 menggunakan empat mesin jet turbofan.

Selain mengumumkan penghentian produksi A340, Airbus juga mengumumkan penundaan pengiriman pertama pesawat terbaru Airbus A350 selama enam bulan.

A350 dirancang untuk berkompetisi secara langsung dengan Boeing 787 Dreamliner, yang bulan lalu telah diserahterimakan ke pemesan pertamanya, All Nippon Airways (ANA) dari Jepang.

Airbus dan Boeing adalah dua produsen utama pesawat penumpang di dunia dan saling bersaing ketat. Menurut laman resmi Airbus, hingga Oktober 2011, Airbus telah membuat 375  A340 berbagai varian yang terdiri dari 246 A340-300, 32 A340-500, dan 97 A340-600. Total ada 365 pesawat A340 yang masih dioperasikan di seluruh dunia. (AFP/DHF) 

JUDUL POSTINGAN

Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur

 Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan sekto...