Surat kabar Inggris The Times melaporkan Indonesia secara informal melobi Inggris mengenai kemungkinan membeli sampai 24 unit pesawat jet multi-tempur Eurofighter Typhoon.
Penjualan itu, bila terlaksana, akan bernilai sekitar £5 miliar atau hampir Rp71 triliun.
Secara terpisah, perusahaan peralatan militer Inggris BAE Systems menawarkan untuk meremajakan pesawat-pesawat jet
Hawk yang sudah dimiliki Indonesia.
Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Brigjen
I Wayan Midhio, membenarkan bahwa memang ada pembicaraan mengenai
peremajaan pesawat Hawk, namun membantah ada rencana pembelian pesawat
multi-tempur
Eurofighter Typhoon.
"TNI AU sedang membahas mengenai Eurocopter,
helikopter Eropa. Tetapi masih dievaluasi untuk dibahas di tingkat TNI
AU, belum dibahas di kementrian (pertahanan)," kata Wayan Midhio.
Beragam jenis
Indonesia berminat membeli pesawat tempur Inggris
Indonesia dilaporkan
berminat membeli 24 pesawat jet multi-tempur Eurofighter Typhoon dari
Inggris. Peneliti CSIS Evan Laksamana berbicara kepada Emilda Rosen.
Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.
Saat ini Indonesia memiliki beragam jenis
pesawat tempur, diantaranya pesawat Hawk buatan Inggris, F-16 buatan
Amerika dan pesawat Sukhoi buatan Rusia.
Peneliti CSIS urusan pertahanan Evan Laksamana
mengatakan, keragaman ini merupakan upaya diversifikasi pemerintah
terhadap peralatan pertahanan, karena Indonesia beberapa kali dikenakan
embargo pembelian peralatan dari negara-negara Barat seperti Amerika dan
Inggris.
Pemerintah Inggris di bawah Partai Buruh pada
tahun 1999 melarang penjualan peralatan pertahanan atas dugaan
pesawat-pesawat pengebom buatan Inggris digunakan untuk mengebom warga
sipil di Timor Timur, Papua dan Aceh.
Pada tahun yang sama Kongres Amerika menerapkan
pelarangan penjualan senjata kepada Indonesia atas alasan serupa, yang
baru dicabut pada tahun 2005.
Namun Evan Laksamana melihat, upaya
diversifikasi pembelian senjata yang tidak dibarengi rencana jangka
panjang akan menjadi masalah di kemudian hari.
"Dari segi sistemnya, dari segi
maintenance,
dari segi biaya yang harus dikeluarkan untuk melatih orang-orang yang
sama. Dalam situasi darurat misalnya, belum tentu orang yang sudah
dilatih untuk menerbangkan Sukhoi bisa menerbangkan Typhoon. Jadi biaya
yang dikeluarkan akan lebih banyak,"