Model Pesawat Terbang Dari Peradaban Pra-kolombia Kuno.




Apakah keganjilan-keganjilan prasejarah mengenai konsep pesawat terbang modern hanya bisa kita temukan di Mesir dan India saja? jawabannya tentu saja tidak. Di beberapa wilayah di sekitar Amerika Tengah hingga kebeberapa bagian negara di Amerika Latin, banyak ditemukan artifak-artifak purbakala yang berbentuk sangat mirip dengan desain pesawat terbang modern pada umumnya. Artifak-artifak yang keseluruhannya terbuat dari bahan dasar emas tersebut diperkirakan telah berusia 1000 tahun lebih. Apabila desain dari pesawat terbang di kuil Abydos masih berupa relief, lain halnya dengan benda peninggalan masa silam yang satu ini. Yup, artifak-artifak ini benar-benar berupa arca-arca kecil, mungkin boleh dibilang sebagai replika dari dari sebuah wahana bersayap yang masih sangat sulit untuk di identifikasi jenisnya.

Para ahli purbakala menyebut obyek-obyek kecil ini sebagai zoomorpic, yang artinya hewan berbentuk suatu obyek tertentu. Namun apabila artifak-artifak kecil tersebut merupakan penggambaran bentuk tubuh suatu jenis hewan tertentu, maka hewan apakah yang dapat mewakilinya? Jika dibandingakan dengan artifak-artifak kuno berbentuk makhluk hidup dari seluruh kebudayaan diseluruh dunia, maka yang satu ini sangatlah berbeda. Karakteristiknya sangat berbeda dengan artifak peninggalan kebudayaan lainnya yang pada umumnya berbentuk realistik dan sangat mudah dikenal hanya dengan melihat bentuk morfologinya saja.

Ada beberapa jenis hewan terbang seperti burung (unggas) dan serangga serta beberapa mamalia seperti tupai terbang dan oppossum. kemudian ada beberapa jenis kadal, ada juga jenis-jenis ikan tertentu yang juga dapat meluncurkan tubuhnya secara singkat ke udara. Tapi, dari semuanya itu, hewan jenis apakah yang lebih tepat untuk mewakili obyek-obyek misterius tersebut? Merlihat dari bentuk-nya saja, dapat diperkirakan jika benda tersebut bukan merupakan penggambaran menganai makhluk hidup jenis apapun. Seharusnya para sarjana tidaklah perlu terlalu memaksakan dirinya untuk terlalu ngotot menyebutkan bahwa obyek-obyek tersebut merupakan penggambaran dari suatu spesies hewan. Kini, saatnya kita harus sedikit membuka pikiran mengenai ketidakmungkinan prasejarah menjadi sesuatu yang mungkin saja terjadi.

Anak kecil sekali pun tidak akan mengimajinasikan obyek itu sebagai burung apabila diperlihatkan kepadanya. Mungkin, mereka akan lebih suka menyebutnya sebagai "mainan" berbentuk pesawat terbang. Walaupun demikian, sesungguhnya masih terlalu sulit bagi kita untuk mengidentifikasi/menentukan obyek apakah yang diukir oleh para pemahat-pemahat masa silam ini. Apakah benar artifak-artifak ini bisa dijadikan bukti kuat bahwa peradaban prasejarah telah memasuki zaman aeronautika? mungkin masih sangat sulit untuk mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan.

Diatas ini adalah gambar dari artifak membingungkan tersebut. Jika kita perhatikan, struktur dari benda ini benar-benar telihat seperti kerangka sebuah pesawat terbang modern. Dimana disana kita bisa melihat secara jelas bentuk dari kedua sayapnya, dan bagian depan yang mirip dengan moncong pesawat terbang pada umumnya. Hal itu berlaku juga pada bagian belakangnya, dimana tidak ada perbedaan bentuk yang terlalu mencolok dengan bentuk posisi kemudi di bagian belakang pesawat modern. Mari kita perhatikan lagi sebuah cekungan kecil diantara kepala dan badan obyek tersebut. Saya tidak terlalu ngotot untuk menyebutnya sebagai pusat kendali/kokpit, dimana biasanya sang pilot dengan gagah-nya duduk di tempat itu. Lalu kita perhatikan bagian bawahnya, ada dua citra terlihat disana, yang satu berbentuk setengah lingakaran (tidak sempurna) dan yang satunya lagi agak sedikit memanjang hingga kebelakang tubuh obyek. Disini, saya juga tidak terlalu ngotot untuk menyebut citra setengah lingkaran tersebut sebagai roda, dimana pada setengah bagiannya lagi masuk kedalam badan pesawat. Sepertinya, memang sebuah rodalah yang kira-kira dapat mewakilinya. Lalu untuk citra yang satunya lagi, masih sangat sulit untuk ditentukan.

Bila kita mengidentifikasi artifak tersebut seperti diatas, maka kita akan semakin yakin bahwa benda kuno itu tidak sekalipun dapat mewakili bentuk dari suatu jenis spesies hewan, sehingga sebutan zoomorpic sepertinya tidaklah terlalu tepat untuk menyebutnya. Menurut pandangan saya pribadi, tidak ada salahnya kita berspekulasi bahwa masyarakat prasejarah yang sebenarnya tidaklah terlalu seprimitif yang kita bayangkan sebelumnya. Saya percaya, sebenarnya kita hanyalah mengulang sejarah dan menemukan kembali apa yang telah ditemukan oleh nenek moyang (tahu kan maksud saya?). Tentunya pernyataanku ini bukan tanpa dasar sama sekali. Bagi teman-teman yang sering mengikuti artikel di blog-ku ini, dapat kalian lihat sendiri banyaknya temuan prasejarah aneh dan misterius, namun juga begitu canggih. Para sarjana pun dibuat pusing oleh hal ini, dan mereka sering menyebut benda-benda canggih masa silam itu sebagai "keganjilan prasejarah".

Menurut pandangan masyarakat umum, awal 1900-an merupakan titik awal dari perkembangan menuju era transportasi udara setelah Wright bersaudara berhasil mengembangkan konsep pesawat terbang berkekuatan mesin pertama pertama di dunia yang mereka namakan Kitty Hawk. Tapi itu tidak menurutku, sebab saya yakin bahwa ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita sebenarnya telah memasuki zaman nuklir dan telah mampu mengembangkan teknologi dirgantara/aeronautika yang canggih. Bahkan saya pun yakin jika mereka telah berhasil menemukan dan menggunakan peralatan listrik. Mungkin sebagian dari teman-teman menganggap pandanganku ini terlalu imajinatif dan gila. Tapi, jika kita rajin membaca beberapa referensi/sumber yang ada dan sekaligus mau membuka pikiran yang menyumbat ini, niscaya mungkin akan tercerahkan.

Sudah terlalu banyak informasi yang kita dapatkan mengenai mesin-mesin terbang masa silam seperti ini. Mulai dari catatan kitab suci di daratan India hingga ke wilayah Benua Amerika. Info-info itupun dipertegas dengan temuan-temuan arkeologi yang sebagaimana kita ketahui sangat banyak dan tersebar rata dari berbagai penjuru dunia.
Banyak lukisan-lukisan purbakala yang terukir pada Gua, dan umumnya menggambarkan sesuatu yang diluar dugaan kita. Para pelukis-pelukis gua itu menggambarkan sesuatu yang membingungkan, benda-benda terbang yang aneh, lengkap dengan para pengemudinya yang menggunakan helm logam. Apakah mereka menggambarkan secara kebetulan saja dan sesuai dengan imajinasi mereka? saya katakan itu tidaklah mungkin. Sebab lukisan-lukisan ini hampir bisa ditemukan diseluruh wilayah di bumi ini. Mungkin untuk yang satu ini, akan saya uraikan lebih jauh di artikel selanjutnya mengenai "teori astronot kuno" yang dikemukakan oleh beberapa penulis nonfiksi terkenal seperti Zacharia Sitchin, Burak Eldem, Robert K.G.Temple maupun Erich Von Daniken.

Bandara Juanda Pintu Gerbang Utama Surabaya Dan Jawa Timur.


Bandara Juanda.

Bandara Juanda Surabaya,berada sekitar 20 kilometer selatan surabaya menuju sidoarjo yang secara administratif berada di wilayah kecamatan kedati,Kab.sidoarjo.Suarabaya yang penduduknya sekitar 2,6 jta orang adalah ibukota propinsi jawa timur dan merupakan kota terbesar kedua setelah jakarta.

Dengan klarifikasi bandara kelas 1,bandara juanda sanggup didarati pesawat boeing 747 dengan landasan mencapai 3000 M,peran bandara juanda akan semakin penting dengan meningkatnya peranan surabaya berkaitan dengan peningkatan kegiatan ekonomi.oleh karena itu pengembangan bandara juanda sangat diperlukan guna untuk dapat memberikan jasa pelayanan sesuai dengan tututan masa kini.
Sejarah singkat Bandara Juanda.

Bandara udara juanda di bangun sejak tahun 1959 dan diresmikan penggunanya oleh Presiden Pertama Republik Indonesia pada tanggal 12 Agustus 1964 dengan sebutan pangkalan udara TNI-AL ( Lanundal Juanda ).pada awalnya dipergunakan untuk keperluan militer,namun sejalan dengan perkembangan jaman dan meningkatnya kebutuhan maka bandara ini berkembang pula untuk penerbangan sipil.

perkembangan penerbangan sipil yang semakin meningkat menyebabkan meningkatnya kesibukan TNI-AL.Tahun 1981 penerbangan sipil di lanudal juanda di alihkan pengelolaanya dari Dephamkam Kepada Dephub,dengan pengolahan bandara juanda diserahkan pada Direktorat Perhubungan Udara sampai tahun 1984.

Sejak tanggal 1 januari 1985 pengolahan bandara diserahkan kepada Perum Angkasa Pura.Tahun 1986 Perum Angkasa Pura berubah menjadi Perum Angkasa Pura I.

Dibawah pengolahan Pt.Angkasa Pura I bandara juanda telah melakukan perubahan -perubahan dan mengalami perkembangan di antaranya, tanggal 26 juli 1985 ditetapkan sebagai bandara Ekspor/Impor.pada tanggal 12 desember 1987 di buka pelayanan penerbangan internasional seperti singapura,Hongkong,Taipe dan Manila dengan Transit bandara soekarno-Hatta.

Setahun berikutnya pada tanggal 1 Oktober 1988 dilayani kedatangan Internasional Khusus custum.Pada tahun 1988 bandara juanda dinyatakan sebagai pintu masuk bebas visa bagi wisata asing.pada tanggal 26 mei 1990 dilakukan peresmian VIP Room oleh bapak Sudharmono,SH. 24 desember 1990 Menteri Perhubungan Ir.Aswar Anas meresmikan terminal Internasional oleh sekaligus pembukaan penerbangan Internasional perdana.pada bulan desember 1991 Singapura Airlines dan China Sounthern Air membuka jalur pernerbangan ke singapura dan Canto( China ).

Terminal Bandara Juanda.

Secara keseluruhan terminal bandara juanda mencapai 28.088 m2 dengan kapasitas total 5,4 juta penumpang/tahun.bandara juanda memiliki 3 terminal yaitu terminal domestik, Internasional dan terminal Cargo.

1.Untuk terminal domestik terminal seluas 20.131 M2. Ini dapat melayani hingga 4 juta penumpang/tahun.
2.Untuk terminal Internasional, yang berkapasitas 1,4 juta penumpang/tahun,mencakup bangunan seluas 7.957 M2.
3.Untuk terminal Cargo terletak di sebelah barat banda dengan luas 9.200 M2.

Selain Terminal-terminal di atas,bandara juanda juga memliki terminal VIP yang terletak di sebelah timur terminal Internasional.Terminal ini Khusus di gunakan Untuk kedatangan maupun keberangkatan Tamu Khusus atau Tamu bandara.

Rute Tujuan Penerbangan.

Dengan waktu operasi dari jam 06.00-24.00 WIB.Bandara Juanda melayani 19 maskapai domestik maupun internasional.

Penerbangan domestik yang melayani Rute Juanda antara lain...

1.Garuda Indonesia.
2.Lion Air.
3.Mandala.
4.Bouraq.
5.Merpati.
6.Batavia Air.
7.Star Air.
8.Pelita Air.
9.CitiLink.
10.Adam Air.
11.AirFast.
12.Bali Air.
13.Trigana Air.
14.Jatayu Air.
15 X-press Celebes.

Untuk maskapai yang melayani rute Internasional diantaranya...

1.Garuda Indonesia.
2.Malaysia Air.
3.Bouraq.
4.Merpati.
5.Lion Air.
6.Royal Brunei.
7.Singapore Air.
8.Eva Air.
9Chatay Pasific.

Fasilitas Bandara Juanda.

Sebagaimana layaknya bandara Internasional.bandara juanda di lengkapi dengan fasilitas layanan yang cukup lengkap bagi para penumpang domestik maupun internasional.antara lain lahan parkir,Transportasi,Jasa Keimigrasian,Bank,Cafetaria,Money Changer,ATM dan Counter Hotel dan wisata.

Airbus A380 Pesawat Semewah Hotel.


Airbus  menjanjikan pesawat yang sanggup merevolusi penerbangan udara.A380 dengan kapasitas
yang lebih banyak , kursi yang lebar, lebih nyaman untuk kaki di bandingkan pesawat jumbo-jet sekarang.

Sebuah pesawat jumbo seharga US$ 275 juta manjajikan kemewahan sebuah penerbangan udara,revolusi penerbangan udara bahkan diperlukan pabrik yang lebih besar untuk mambangunnya.kabinnya lebih berupa hotel terbang dibanding disebut pesawat terbang.fasilitas sebuah hotel berbintang 5 yang anda butuhkan ada di pesawat ini mulai dari bar dengan live musik, pusat kebugaran,tempat tidur, TV/video pribadi bahkan kamar mandi berpancuran dengan air panas dan air dingin.

Didesain dengan konsep triple deck,yang terdiri dari deck atas, deck utama dan deck bawah.deck di atas sanggup mencapai 102 penumpang kelas bisnis dan 103 kelas ekonomi.untuk deck utama terdiri dari 22 penumpang dan 328 kelas ekonomi.sedangkan deck bawah untuk cargo yang sanggup manampung 12 pallet.

Pesawat terbesar di dunia ini mulai di rakit di toulese,prancis 7 mei 2004 yang lalu yang diresmikan oleh perdana menteri jean-pierre raffarin.

Untuk pembuatan ini sudah merupakan hal yang luar biasa. pesawat yang memiliki panjang 73 M memusatkan perakitan di toulouse.dengan setiap bagian dibuat di negara yang berbeda-beda.perancis mengerjakan kubah radar, potongan hidung, badan tengah pesawat dan wing box. spanyol menggarap ekor pesawat dan perut tengah pesawat.inggris membangun sayap selebar 79,8 M dan jerman membuat ekor vertikal dan buritan.

Para pengamat penerbangan memperkirakan, pesawat A380 diperkirakan akan merevolusi industri penerbangan.hal ini terbukti pada telah terdaftarnya 11 maskapai yang mencapai 129 pesanan.sejak paris show 2003 seperti Air France, Emirates, Federal Express,ILFC,Korea Air,Qatas,Qatar Airways.Untuk Asia Tenggara Malaysia Airlines dan Singapore Airlines.

Airbus A380 Dengan mesin terbaru Trent 900 Rolls-Royce atau GP7200 Engine Alliance dengan rata-rata bahan bakar mesinnya lebih hemat 20% di bandingkan dengan pesawat jumbo-jet sekarang.A380 Dapat menjangkau jarak sejauh 16.800 KM tanpa henti dan biaya operasionalnya pun lebih murah 17% untuk penumpang dan 30 % untuk pesawat cargo.

Terbang Layang Dengan Gantole ( Capung ).


Terbang Layang Dengan Gantole.

Olahraga gantole ini terbilang populer di masyarakat.masuk ke indonesia sekitar tahun 1977.semula namanya hang gliding .oleh ahli bahasa aton muliono di terjemahkan sebagai layang gantung.

Adalah wiweko soepono,tokoh penerbang indonesia sebagai pembawa hand gliding ke tanah air.wiweko menyerahkan peralatan hang gliding kepada Ir.Herudi.oleh herudi diserahkan kepada beberapa mahasiswa Teknik Fisika Falkutas ITB.

Di ITB inilah peralatan Hang giliding di buat duplikatnya.setelah itu diterbangkan secara
otodidak di bukit lagarda,cimahi kabupaten bandung.pada tanggal 5 juli 1977 mahasiswa ITB Ervan Ibrahim tercatat sebagai orang pertama yang berhasil menerbangkan layang gantung ini,walaupun dengan jarak yang tidak begitu tinggi.

Tanggal 22 juli 1977,ervan dan kawan-kawan membentuk klub layang gantung pertama.namanya Gantole.Nama gantole sendiri di ambil dari bahasa bugis yang artinya Capung.Nama gantole tidak lain atas saran Ahmad Kalla ( Adik Jusuf Kalla Wakil Presiden RI ) yang merupakan salah satu perintis olahraga ini di indonesia.

Era Tahun 1985 - 1995 dapat di sebut sebagai masa maraknya olah raga ini.gantole masuk masuk sebagai cabang yang di pertandingan dalam PON XI.

Bagian Gantole.

1. Harness.
2. Sayap.
3.Control Bar.

Harness sendiri letaknya menempel pada badan penerbang gantole dan sewaktu terbang di bawahnya membentuk kantong semacam kepompong kaki masuk kedalamnya dan kedua tangan memegang Base Bar.

Sayap Gantole terdiri dari Dua batang leading edge,satu batang leading Cross bar dan Satu set Control Bar serta satu batang kill.leading edge merupakan batang penguat sayap yang letaknya paling depan sedangkan Cross Bar terletak melintang antara pertengahan leading edge dengan Kill.

Satu Set Control bar terdiri dari dua buah down Tabe dengan panjang sama dan satu batang base bar membentuk segitiga sama kaki.dua down tabe posisinya bediri,di pegang bila atlit gantole mau meloncat.sedangkan base bar posisinya melintang di bawah guna pengemudi bila gantole sedang terbang.

SPESIFIKASI GANTOLE.
Panjang Leading edge
( Sebelah Sayap )                : 5,5 M.

Berat                                     : 20 - 30 Kg.

Tinggi ( Panjang )
Down Tube                           : 1,7 M.

Pajang Base Bar                   : 1,4 M.

Pajang Kill                             : 3,6 M.

Panjang Gantole
Sudah Dilipat                        : 3,6 M.

Derby Airport in Australia.


Derby Airport.

Airport History

Derby has contributed to the aviation history of Australia since the first days of Norman Brearly's West Australian Airways.

On 9th August 1922, a site for the Derby airport was selected. This site, now the aircraft aerodrome near town, met the demands of aviation for the next 68 years. For a number of years the salt marsh adjacent to the town was used as a convenient airstrip provided the tide was out!

In 1938 the introduction of a United Kingdom to Darwin flying boat service and a land plane link from Darwin to Sydney began. A through route from Darwin to Perth was established by MacRobertson Miller Aviation Co (MMA), which had taken over from Western Australian Airways in 1934.

In May 1941 an Advanced Operational Base was established by the RAAF and the aerodrome came under military control. It became an important base for Allied operations when Japan entered the war and made a series of attacks to the North West, including an air raid on Derby and the devastating attack on Broome.

Drama has been part of Derby's aviation history with events such as the downing of the Southern Cross at Glenelg River north of Derby on the 30th March 1929, flown by Kingsford Smith. This became known as the Coffee Royal Affair, as it was speculated, and later disproved, that Kingsford Smith had staged the forced landing as a publicity stunt.

The Royal Flying Doctor Service (Victorian Section) was incorporated on 23rd August 1934. It provided an essential service that continues today, with modern aircraft servicing all the Kimberley from the airport and now administered by RFDS (Western Operations).

In 1989, civil operations were shifted to the Curtin Civil Terminal at Curtin RAAF Base, and the local airport reduced to light aircraft status on 1 July 1989.

Since then, all civil operations have returned to Derby Airport and services include Regular Public Transport (RPT, Charter and Royal Flying Doctor Service operations.

Copy a portion in>>> www.sdwk.wa.gov.au/.../ derbyairport.html

History Airplane.


To say simply that the Wright brothers invented the airplane would be disrespectful to the long years of scientific research and hard work put in by Orville and Wilbur Wright. Their story reads like the proverbial American dream where two honest, hardworking men, armed with nothing but their intelligence and determination made one of the most significant discoveries of the twentieth century.

Wilbur and Orville were born to Milton and Susan Wright. It was their father who initiated and encouraged the brothers’ interest in airplanes. In 1878 Milton Wright returned from a work related trip with a rubber band powered helicopter. The Wright brothers even at a young age immediately studied the model helicopter and started building replicas.

Around 1896, when the Wright brothers were successfully managing their bicycle company, the newspapers started carrying many stories about the invention of gliders and inventors who were trying to fly. This triggered the imagination of both brothers. They noticed that all the aircrafts developed till then lacked controls.

To start their venture, Wilbur wrote a letter to the Smithsonian Institution requesting for all the information on flight experiments that they had. Subsequently, in 1899 the brothers developed a simple system to warp the wings of a biplane. Warping meant that the plane could be controlled and rolled left or right as required. They tested this system on a series of gliders they developed.

The Wright brothers used Kitty Hawk, North Carolina to test the various models they built. They launched two gliders in 1900 and 1901 but were disappointed with the performance due to lack of lift and control. The brothers went back to the drawing board and spent the winter of 1901-1902 designing a wind tunnel and conducting experiments to figure out the best wing shape. This allowed them to build a glider with plenty of lift. Towards the end of 1902 they launched their third glider with roll, pitch and yaw controls.

The next winter was spent in designing a gasoline engine small and powerful enough to propel an aircraft. Their mechanic Charlie Taylor was a great help in designing the engine. They also designed the first ever airplane propellers and finally built a new, powered aircraft.

However, the road to success was not so easy. They suddenly found themselves competing with Samuel Langley, Secretary of the Smithsonian Institution. He had also built a powered aircraft and had investment funding to help his ventures. Luckily for the Wright brothers, Langley’s two attempts at launching his airplane failed miserably and put him out of competition.

Other problems were not quite so easily resolved. The weather misbehaved and there was nothing much they could do about it. Something in their control however, was the propeller. The propeller shafts broke on the first attempt and the drive sprockets were too loose on the second try. On the third try one of the propeller shafts cracked. Orville finally resolved the problem by using spring steel to make a new set of shafts. The aircraft was ready and they called it the Flyer.

After two unsuccessful attempts, the Wright brothers made aeronautical history on December 17th, 1903. Orville Wright took the Flyer for a 12 second sustained flight covering 120 feet. In the next few hours the brothers made 4 flights the longest of which was 852 feet.

Thus, the Wright brothers invented the airplane and much more!

Soekarno-Hatta Airport In Indonesia.


History.

Between 1928–1974, the Kemayoran Airfield intended for domestic flights was considered too close to an Indonesian military airfield, Halim Perdanakusuma. The civil airspace in the area became narrow, while air traffic increased rapidly, which risked international air traffic. In 1969, a Senior Communication Officers meeting in Bangkok expressed this concern.

In the early 1970s, with the help of USAID, eight potential locations were analyzed for a new international airport, namely Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, South Tangerang and North Tangerang. Finally, the North Tangerang airspace was chosen and it was also noted that Jonggol could be used as an alternative airfield. Meanwhile the Indonesian government started to upgrade the Halim Perdanakusumah airfield to be used for domestic flights.

Between 1974–1975, a Canadian consultant consortium consisting of Aviation Planning Services Ltd., ACRESS International Ltd., and Searle Wilbee Rowland (SWR), won a bid for the new airport feasibility project. The feasibility study started on 20 February 1974 with a total cost of 1 million Canadian Dollars. The one-year project proceed with an Indonesian partner represented by PT Konavi. By the end of March 1975, the study revealed a plan to build three inline runways, a perforated road, three international terminal buildings, three domestic buildings and one building for Hajj flights. Three stores for the domestic terminals would be built between 1975–1981 with a cost of US$ 465 million and one domestic terminal including an apron from 1982–1985 with a cost of US$ 126 million. A new terminal project, named the Jakarta International Airport Cengkareng (code: JIA-C), began.

Project Phases.

1975 – 1977 To dispense the land and also set up the province border was time needed. Schipol, Amsterdam was asked for opinion which according to them is rather expensive and over design. The cost raised up high because of using decentralization system. The Centralization system was a suitable one.

The Team decided on a decentralization system like the one used at Orly West Airfield, Lyon Satolas,, Langen-Hagen-Hanover and Kansas City Airport module system was adopted because it is simple and effective.

12 November 1976.
The building project tender was won by the French Aeroport de Paris.

18 May 1977.

The Final contract design was agreed on by the Indonesian Government and Aeroport de Paris with a fixed cost of about 22,323,203 French francs and Rp. 177,156,000 equivalent to 2,100,000 francs. The work was scheduled to take 18 months. The government appointed PT. Konavi as the local partner.

The result was:
• 2 inline runways including taxiways
• Perforate roads: 1 at the east, another at the west for airport services. The west was closed to public use.
• 3 terminals which can accommodate 3 million passengers per year.
• 1 module for international flights and 2 for domestic.
• An Airport inside a garden was selected as an image.

20 May 1980.
A four year contract was signed. Sainraptet Brice, SAE, Colas together with PT. Waskita Karya as the developer. Ir. Karno Barkah MSc. was appointed the JIA-C Project Director, responsible for the airport's construction. [3]

1 December 1980.

The Indonesian government signed a contract for Rp. 384,8 billion with developers. The structure cost would be : Rp. 140,450,513,000 from APBN (national budget), 1,223,457 francs donated by France and US$ 15,898,251 from the USA.

1 December 1984.
The airport structure was complete.

1 May 1985.
The second terminal was started and launched on 11 May 1992.

Airlines and destinations.The following airlines operate from Soekarno-Hatta International Airport (as of March 2008):

Terminal 1

Terminal 1A.
Indonesia AirAsia (Bali-Denpasar, Balikpapan, Batam, Medan, Padang, Solo, Surabaya)
Lion Air (Ambon, Balikpapan, Banda Aceh, Banjarmasin, Batam, Bau Bau, Bengkulu, Bima, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Kaimana, Kendari, Kupang, Makassar, Manado, Mataram, Medan, Padang, Palu, Pangkal Pinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Sorong, Sumbawa, Surabaya, Tahuna, Tarakan, Tual, Yogyakarta)
Wings Air (Denpasar/Bali, Fak Fak, Luwuk, Manado, Mataram, Medan, Palembang, Pekanbaru, Sorong, Ternate, Solo, Yogyakarta)

Terminal 1B.
Batavia Air (Ambon, Balikpapan, Banjarmasin, Denpasar/Bali, Jambi, Kupang, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pangkalpinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Surabaya, Tarakan, Yogyakarta)
Kartika Airlines (Balikpapan, Batam, Ipoh, Johor Bahru, Medan, Surabaya, Tarakan)
Sriwijaya Air (Balikpapan, Bandar Lampung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Malang, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Pangkal Pinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Surabaya, Tanjung Pandan)

Terminal 1C.
Airfast Indonesia (domestic routes)
Mandala Airlines (Balikpapan, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jambi, Makassar, Malang, Medan, Padang, Pekanbaru, Semarang, Solo, Surabaya, Tarakan, Yogyakarta)

Former users
Adam Air (Air certificate revoked)
Citylink (Temporary closure (until mid 2008))

Terminal 2.
Check in desks in terminal 2

Terminal 2D.
AirAsia (Kuala Lumpur)
Air China (Beijing, Xiamen)
Air India (Mumbai, Singapore)
All Nippon Airways (Singapore, Tokyo-Narita)
Cathay Pacific (Hong Kong)
Cebu Pacific (Manila)
China Airlines (Hong Kong, Taipei-Taiwan Taoyuan)
China Southern Airlines (Beijing, Guangzhou)
Emirates (Colombo, Dubai, Kuala Lumpur, Singapore)
Etihad Airways (Abu Dhabi)
EVA Air (Taipei-Taiwan Taoyuan)
Japan Airlines (Tokyo-Narita)
Korean Air (Seoul-Incheon)
Kuwait Airways (Kuala Lumpur, Kuwait)
Lufthansa (Frankfurt, Singapore)
Malaysia Airlines (Kuala Lumpur)
Philippine Airlines (Manila, Singapore)
Qantas (Perth, Sydney)
Saudi Arabian Airlines (Jeddah, Kuala Lumpur, Riyadh, Singapore)
Shenzhen Airlines (Nanning)
Singapore Airlines (Singapore)
Thai Airways International (Bangkok-Suvarnabhumi, Singapore)
Valuair (Singapore)
Viva Macau (Macau)
Yemenia (Dubai, Kuala Lumpur, Sana'a)

Former users.

Adam Air (Air certificate revoked)

Terminal 2E.
Baggage claim at terminal 2
Batavia Air (Guangzhou, Kuching)
Garuda Indonesia (Bangkok-Suvarnabhumi, Beijing, Chennai, Dubai, Guangzhou, Ho Chi Minh City, Hong Kong, Hyderabad [Starts June 2008], Jeddah, Kuala Lumpur, Nagoya-Centrair, Naha [begins August 2008], Osaka-Kansai, Perth, Riyadh, Shanghai-Pudong, Singapore, Tokyo-Narita)
Indonesia AirAsia (Bangkok-Suvarnabhumi, Johor Bahru, Kota Kinabalu, Kuala Lumpur, Kuching, Penang)
KLM Royal Dutch Airlines (Amsterdam, Kuala Lumpur)
Lion Air (Ho Chi Minh City, Kuala Lumpur, Penang, Singapore)
Merpati Nusantara Airlines (international routes)
Qatar Airways (Doha, Singapore)
Royal Brunei Airlines (Bandar Seri Begawan)

Terminal 2F.
Arrival wing terminal 2 F
Merpati Nusantara Airlines (domestic routes)
Garuda Indonesia (Ampenan, Balikpapan, Banda Aceh, Banjarmasin, Batam, Biak, Denpasar/Bali, Jayapura, Makassar, Manado, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Surabaya, Timika, Yogyakarta).

JUDUL POSTINGAN

Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur

 Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan sekto...