Pesawat kertas Jepang diperkirakan mampu menembus atmosfer Bumi dari
angkasa luar. Namun, tim peneliti kesulitan memprediksi lokasi
pendaratan pesawat kertas itu.
Badan antariksa Jepang JAXA
(Japan Aerospace Exploration Agency) bekerja sama dengan para ahli seni
lipat kertas Japan Origami Airplane Association (JOAA) untuk merancang
pesawat kertas yang akan diluncurkan dari stasiun antariksa
internasional ISS ke Bumi. Ini bukan proyek main-main.
JAXA
melakukan percobaan ini untuk meneliti desain pesawat ulang-alik masa
depan yang lebih aman dan efisien. JAXA pun sudah melakukan simulasi di
terowongan angin hipersonik di laboratorium University of Tokyo.
Hasilnya, sebuah pesawat kertas yang memiliki panjang sekitar tujuh
sentimeter dan lebar sekitar lima sentimeter ternyata tidak hancur
ketika melesat dengan kecepatan tujuh kali kecepatan suara (Mach 7).
Padahal
pada kecepatan setinggi itu, pesawat tersebut harus menahan panas
hingga 200 derajat Celsius. Kondisi di laboratorium tersebut mirip
dengan kondisi yang dialami pesawat kertas itu ketika terbang dari
angkasa luar menembus atmosfer Bumi. JAXA menganggarkan dana 90 juta yen
(sekira Rp8,1 miliar) untuk membiayai penelitian pesawat kertas ini
selama tiga tahun, ujar ilmuwan JAXA Hidehiro Akashi.
Ketua tim
peneliti, yakni Profesor Aeronautika dan Astronautika University of
Tokyo Shinji Suzuki mengungkapkan, gagasan pembuatan pesawat kertas
tersebut sesungguhnya sudah muncul sejak sepuluh tahun silam. Pada
mulanya, kami dianggap gila karena ingin membuat pesawat angkasa luar
berbahan kertas. Namun, kami membuktikan ide kami ternyata sama sekali
tidak konyol karena pesawat kertas sanggup menahan panas ketika menembus
atmosfer, tutur Suzuki.
Suzuki menjelaskan, pesawat kertas
tersebut terbuat dari kertas berbahan serat tebu yang tahan panas,
angin, dan air.Kertas serat tebu tersebut kemudian disemprot dengan
cairan pelapis khusus dan selanjutnya dilipat menyerupai bentuk pesawat
ulang-alik AS.
Pesawat kertas tersebut dilipat oleh Kepala JOAA
Takuo Toda. Ahli seni lipat kertas tersebut menghabiskan waktu 18 bulan
untuk membuat desain paling tepat. Yakni pesawat kertas yang dilipat
dari secarik kertas tanpa ada potongan dan perekat. Toda sudah mencoba
ratusan desain sebelum mendapatkan versi final yang siap diterbangkan.
Suzuki
dan Toda berpendapat, pesawat kertas tersebut kini memiliki desain
aerodinamika yang baik untuk mengurangi gesekan udara ketika menembus
atmosfer Bumi, yang merupakan salah satu tahap paling kritis dalam misi
penerbangan ulang-alik. Tanpa aerodinamika yang tepat dan perisai
penahan panas yang tangguh, pesawat ulang-alik akan terbakar habis
ketika menembus atmosfer Bumi dari angkasa luar.
Suzuki
menegaskan, uji coba pesawat kertas ini akan membuka jalan penciptaan
pesawat angkasa luar ekstra ringan yang digunakan untuk meneliti
atmosfer bagian atas. Pesawat kertas tersebut rencananya akan
diluncurkan dari ISS ketika JAXA dan badan antariksa AS NASA sudah
menyelesaikan pemasangan laboratorium angkasa luar Jepang Kibo di ISS,
yakni pada 2010.
Masalah terbesar saat ini adalah pendaratan.
Karena pesawat ini sangat ringan, pesawat ini tentu akan terbawa tiupan
angin ketika sudah memasuki lapisan troposfer, ungkap Suzuki. Suzuki
memaparkan, tim peneliti sempat mempertimbangkan penanaman transmitter
kecil pada pesawat kertas tersebut untuk mempermudah pelacakan. Namun,
transmitter itu ternyata meningkatkan bobot pesawat sehingga membuat
pesawat itu kesulitan untuk menembus atmosfer Bumi.
Sumber: okezone.com
info menarik seputar sejarah penerbangan dan bandara di indonesia dan luar negeri
Pesawat F18 Menerjang Dua Rumah, Tiga Tewas
Rabu, 10 Desember 2008 00:02 WIB
AMERIKA SERIKAT
Pesawat F18 Menerjang Dua Rumah, Tiga Tewas
TIGA orang tewas dan satu orang dinyatakan hilang setelah sebuah pesawat tempur F-18 milik Amerika Serikat jatuh di wilayah permukiman di California, Senin (kemarin WIB).
Insiden tersebut terjadi menjelang tengah hari waktu setempat atau pukul 03.00 WIB. Pesawat tempur dengan dua tempat duduk itu terbang tidak terkendali dan akhirnya jatuh menimpa dua rumah di pinggiran Kota San Diego.
Pesawat itu tengah menuju Pangkalan Udara Korps Marinir di Miramar seusai melakukan latihan di kapal perang Abraham Lincoln yang berada di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego. Sang pilot lolos dari maut setelah berhasil keluar dari pesawat dengan menggunakan parasut dan mendarat tidak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat.
Asap hitam tebal membubung dari lokasi kecelakaan. Puluhan pemadam kebakaran diterjunkan untuk memadamkan api yang membakar puing-puing dua rumah yang diterjang jet tempur itu.
Tim penyelamat menemukan tubuh para korban di tengah reruntuhan rumah. Identitas para korban belum diungkap ke publik. Akan tetapi, menurut media setempat, empat orang termasuk dua anak-anak tinggal di rumah tersebut. Kami hanya tahu ada empat orang yang berada di dalam rumah, dan tiga dari mereka sudah ditemukan, terang juru bicara tim pemadam kebakaran setempat Maurice Luque sebagaimana dilansir Associated Press.
Adapun kantor berita Korea Selatan Yonhap melaporkan dua dari tiga korban tewas tersebut adalah warga negara Korsel. Kami belum memastikan identitas para korban, tetapi dikatakan bahwa dua orang dewasa (yang tewas) adalah warga negara Korsel, ujar seorang pejabat dari Konsulat Jenderal Korsel di Los Angeles, California.
Penyebab pasti kecelakaan masih belum diketahui. Namun, menurut mantan instruktur militer Steve Diamond yang menyaksikan insiden itu, pilot pesawat tempur menyebut masalah mesin sebagai penyebab kecelakaan. Diamond menuturkan pesawat terbang rendah sebelum sang pilot keluar. Selain itu, tidak ada indikasi yang jelas adanya kegagalan lainnya, katanya seperti dikutip AFP.
Pesawat tempur F18 adalah pesawat supersonik yang banyak dipakai Korps Angkatan Laut dan Marinir AS. Pada November 2006, sebuah pesawat F18 jatuh di Pangkalan Udara Miramar, tetapi tidak mengakibatkan adanya korban jiwa. Angkatan Laut AS baru-baru ini melakukan inspeksi terhadap ratusan pesawat Hornet F-18 yang dimiliki setelah menemukan retakan-retakan pada tubuh lebih dari selusin pesawat buatan Boeing itu. Bulan lalu, AL AS menahan 10 pesawat F-18 dan menerapkan larangan terbang bagi 20 pesawat lainnya hingga dilakukan perbaikan.(*/I-3)
Sumber: Media Indonesia Online
AMERIKA SERIKAT
Pesawat F18 Menerjang Dua Rumah, Tiga Tewas
TIGA orang tewas dan satu orang dinyatakan hilang setelah sebuah pesawat tempur F-18 milik Amerika Serikat jatuh di wilayah permukiman di California, Senin (kemarin WIB).
Insiden tersebut terjadi menjelang tengah hari waktu setempat atau pukul 03.00 WIB. Pesawat tempur dengan dua tempat duduk itu terbang tidak terkendali dan akhirnya jatuh menimpa dua rumah di pinggiran Kota San Diego.
Pesawat itu tengah menuju Pangkalan Udara Korps Marinir di Miramar seusai melakukan latihan di kapal perang Abraham Lincoln yang berada di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego. Sang pilot lolos dari maut setelah berhasil keluar dari pesawat dengan menggunakan parasut dan mendarat tidak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat.
Asap hitam tebal membubung dari lokasi kecelakaan. Puluhan pemadam kebakaran diterjunkan untuk memadamkan api yang membakar puing-puing dua rumah yang diterjang jet tempur itu.
Tim penyelamat menemukan tubuh para korban di tengah reruntuhan rumah. Identitas para korban belum diungkap ke publik. Akan tetapi, menurut media setempat, empat orang termasuk dua anak-anak tinggal di rumah tersebut. Kami hanya tahu ada empat orang yang berada di dalam rumah, dan tiga dari mereka sudah ditemukan, terang juru bicara tim pemadam kebakaran setempat Maurice Luque sebagaimana dilansir Associated Press.
Adapun kantor berita Korea Selatan Yonhap melaporkan dua dari tiga korban tewas tersebut adalah warga negara Korsel. Kami belum memastikan identitas para korban, tetapi dikatakan bahwa dua orang dewasa (yang tewas) adalah warga negara Korsel, ujar seorang pejabat dari Konsulat Jenderal Korsel di Los Angeles, California.
Penyebab pasti kecelakaan masih belum diketahui. Namun, menurut mantan instruktur militer Steve Diamond yang menyaksikan insiden itu, pilot pesawat tempur menyebut masalah mesin sebagai penyebab kecelakaan. Diamond menuturkan pesawat terbang rendah sebelum sang pilot keluar. Selain itu, tidak ada indikasi yang jelas adanya kegagalan lainnya, katanya seperti dikutip AFP.
Pesawat tempur F18 adalah pesawat supersonik yang banyak dipakai Korps Angkatan Laut dan Marinir AS. Pada November 2006, sebuah pesawat F18 jatuh di Pangkalan Udara Miramar, tetapi tidak mengakibatkan adanya korban jiwa. Angkatan Laut AS baru-baru ini melakukan inspeksi terhadap ratusan pesawat Hornet F-18 yang dimiliki setelah menemukan retakan-retakan pada tubuh lebih dari selusin pesawat buatan Boeing itu. Bulan lalu, AL AS menahan 10 pesawat F-18 dan menerapkan larangan terbang bagi 20 pesawat lainnya hingga dilakukan perbaikan.(*/I-3)
Sumber: Media Indonesia Online
Pesawat Boeing 747 Dijadikan HOtel Mewah
Pesawat merupakan angkutan publik yang banyak diminati masyarakat dikarenakan waktu cepat dalam menempuh jarak juga sekarang murah meriah untuk harga tiketnya.tetapi ada juga pesawat yang satu ini dengan type boeing 747 di jadikan hotel.wahh.... pasti harganya mahal kali ye... untuk sewa kamarnya...hehehe
Mari kita lihat gambarnya pasti keren abizz...
Mari kita lihat gambarnya pasti keren abizz...
Biofuel Sukses Terbangkan Jet
WELLINGTON, SELASA- Sebuah pesawat bermesin jet yang sebagian di
antaranya menggunakan bahan bakar nabati berhasil terbang selama dua jam
penuh, Selasa (30/12). "Uji coba penggunaan biofuel itu dimaksudkan
untuk mengurangi emisi gas buang pesawat dan menekan biaya," kata sumber
di Air New Zealand.
Dalam uji coba itu, sebuah mesin Boing 747-400 digerakkan dengan bahan bakar campuran antara minyak jarak (jatropha) dan bahan bakar standard jet jenis A1 (avtur) dengan komposisi 50:50.
Melambungnya harga bahan bakar minyak bumi sepanjang tahun 2008 lalu memaksa banyak perusahaan penerbangan harus mencari alternatifi baru untuk bahan bakar pengganti. Apalagi, tahun ini sampai tahun depan juga terjadi penurunan jumlah perjalanan akibat pelambatan perekonomuan global menyusul krisis keuangan global.
Sejauh ini pihak Air New Zealand belum bisa memberikan angka pasti penghematan oleh penggunaan campuran avtur dan bahan bakar nabati, karena itu belum diproduksi secara komersial. Akan tetapi, juru bicara perusahaan penerbangan ini, Tracy Mills memperkirakan penggunaan campuran bahan bakar itu akan kompetitiv dari sisi harga.
Selama ini biofuel diperlakukan secara khusus untuk tidak dicobakan pada dunia penerbangan karena akan membeku pada suhu rendah ketika pesawat sedang menjelajah ketinggian. Akan tetapi, uji coba menunjukkab bahwa jatropha mempunyai titik beku lebih rendah dibandingkan minyak jet.
Chief Executive Air New Zealand Rob Fyfe menyebut penerbangan uji coba itu sebagai tonggak sejarah penting bagi dunia penerbangan komersial. "Hari ini merupakan moment penting sejarah penerbangan. Kami berada pada tahap awal pengembangan sustainable fuel," katanya seusi penerbangan uji coba.
Ditambahkannya, Air New Zealand akan menjadi penerbangan paling ramah lingkungan di dunia. Sebab, penerbangan ini merupakan yang pertama menggunakan jatropha sebagai campuran bahan bakar.
Pada bulan Februari lalu, Boing dan Virgin Atlantic mencoba terbang dengan menggunakan campuran bahan bakar A1 dan minyak sawit, tetapi penerbangan itu mendapat kritik dari banyak aktivis lingkungan, mengingat sawit tidak bisa diproduksi dalam jumlah sangat besar untuk kepentingan penerbangan.
Biofuel sebenarnya mengeluarkan emisi karbon sama banyaknya dengan kerosin yang menjadi bahan bakar pesawat selama ini. Akan tetapi, jatropha yang merupakan tanaman tropis itu mampu menyerap separuh carbon yang dilepaskannya.
Biofuel sebenarnya bisa diproduksi dari banyak jenis tanaman, tetapi perdebatan masih terus berlangsung berkait dengan banyak kepentingan. Ethanol yang dihasilkan dari jagung, misalnya, disebut-sebut memicu kenaikan harga pangan, karena banyak jagung kemudian dijual ke industri biofuel, sehingga pasokan untuk pangan berkurang.
Sebaliknya dengan jatropha, kata Mills, bisa ditanam di lahan kritis sekali pun, sehingga tidak perlu dipertentangkan dengan produksi pangan. "Ethanol adalah generasi pertama biofuel, sedangkan jatropha generasi kedua," kata Mills.
35.000 kaki
Uji coba penerbangan biofuel itu dilakukan dari Bandara Internasional Auckland. Pesawat lepas landas dengan power penuh dan kemudian menjelajah ketinggian 35.000 kaki (10.600 meter). Kru pesawat telah menset semua peralatan untuk membaca kinerja bahan bakar, baik biofuel maupun minyak jet.
Pada ketinggian 25.000 kaki atau 7.600 meter, pilot Kapten David Morgan mematikan pompa bahan bakar untuk mengetahui kebasahan guna meyakinkan bahwa campuran bahan bakar itu tetap mengalir ke mesin.
Sumber:http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/30/16515060/biofuel.sukses.terbangkan.jet
Dalam uji coba itu, sebuah mesin Boing 747-400 digerakkan dengan bahan bakar campuran antara minyak jarak (jatropha) dan bahan bakar standard jet jenis A1 (avtur) dengan komposisi 50:50.
Melambungnya harga bahan bakar minyak bumi sepanjang tahun 2008 lalu memaksa banyak perusahaan penerbangan harus mencari alternatifi baru untuk bahan bakar pengganti. Apalagi, tahun ini sampai tahun depan juga terjadi penurunan jumlah perjalanan akibat pelambatan perekonomuan global menyusul krisis keuangan global.
Sejauh ini pihak Air New Zealand belum bisa memberikan angka pasti penghematan oleh penggunaan campuran avtur dan bahan bakar nabati, karena itu belum diproduksi secara komersial. Akan tetapi, juru bicara perusahaan penerbangan ini, Tracy Mills memperkirakan penggunaan campuran bahan bakar itu akan kompetitiv dari sisi harga.
Selama ini biofuel diperlakukan secara khusus untuk tidak dicobakan pada dunia penerbangan karena akan membeku pada suhu rendah ketika pesawat sedang menjelajah ketinggian. Akan tetapi, uji coba menunjukkab bahwa jatropha mempunyai titik beku lebih rendah dibandingkan minyak jet.
Chief Executive Air New Zealand Rob Fyfe menyebut penerbangan uji coba itu sebagai tonggak sejarah penting bagi dunia penerbangan komersial. "Hari ini merupakan moment penting sejarah penerbangan. Kami berada pada tahap awal pengembangan sustainable fuel," katanya seusi penerbangan uji coba.
Ditambahkannya, Air New Zealand akan menjadi penerbangan paling ramah lingkungan di dunia. Sebab, penerbangan ini merupakan yang pertama menggunakan jatropha sebagai campuran bahan bakar.
Pada bulan Februari lalu, Boing dan Virgin Atlantic mencoba terbang dengan menggunakan campuran bahan bakar A1 dan minyak sawit, tetapi penerbangan itu mendapat kritik dari banyak aktivis lingkungan, mengingat sawit tidak bisa diproduksi dalam jumlah sangat besar untuk kepentingan penerbangan.
Biofuel sebenarnya mengeluarkan emisi karbon sama banyaknya dengan kerosin yang menjadi bahan bakar pesawat selama ini. Akan tetapi, jatropha yang merupakan tanaman tropis itu mampu menyerap separuh carbon yang dilepaskannya.
Biofuel sebenarnya bisa diproduksi dari banyak jenis tanaman, tetapi perdebatan masih terus berlangsung berkait dengan banyak kepentingan. Ethanol yang dihasilkan dari jagung, misalnya, disebut-sebut memicu kenaikan harga pangan, karena banyak jagung kemudian dijual ke industri biofuel, sehingga pasokan untuk pangan berkurang.
Sebaliknya dengan jatropha, kata Mills, bisa ditanam di lahan kritis sekali pun, sehingga tidak perlu dipertentangkan dengan produksi pangan. "Ethanol adalah generasi pertama biofuel, sedangkan jatropha generasi kedua," kata Mills.
35.000 kaki
Uji coba penerbangan biofuel itu dilakukan dari Bandara Internasional Auckland. Pesawat lepas landas dengan power penuh dan kemudian menjelajah ketinggian 35.000 kaki (10.600 meter). Kru pesawat telah menset semua peralatan untuk membaca kinerja bahan bakar, baik biofuel maupun minyak jet.
Pada ketinggian 25.000 kaki atau 7.600 meter, pilot Kapten David Morgan mematikan pompa bahan bakar untuk mengetahui kebasahan guna meyakinkan bahwa campuran bahan bakar itu tetap mengalir ke mesin.
Sumber:http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/30/16515060/biofuel.sukses.terbangkan.jet
Koneksi Wi-Fi Pada Penerbangan American Airlines
Kebutuhan internet saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan. Karena seperti yang kita ketahui, tidak hanya informasi tapi di sini kita bisa mendapatkan berbagai kemudahan dalam mengakses berbagai hal.
Di American Airlines, ditawarkan koneksi melalui Wi-Fi untuk hampir semua jenis pesawatnya. Diumumkannya bahwa akan ada perluasan pemasangan nirkabel di sekitar 300 armada pesawat terbang.
Untuk pesawat terbang Boeing 767-200 sudah dapat mendukung internet Wi-Fi dari AA, sedangkan untuk pesawat terbang 300 MD-80 dan Boeing 737-800 juga akan mendukung internet Wi-Fi dari AirCell.
Setelah melalui percobaan selama 6 bulan di 2 perusahaan pesawat terbang, dengan menggunakan konektivitas Wi-Fi akan dapat menawarkan kemudahan untuk tetap terkoneksi ke rumah, kantor atau ke mana saja ketika Anda sedang melakukan perjalanan. Dan ternyata keuntungan penerbangan dengan dilengkapi internet Wi-Fi mampu memikat calon penumpang.
Dalam penerbangan menggunakan armada pesawat terbang Amerika, internet akan diaktifkan setelah pesawat mencapai ketinggian sekitar 10.000 kaki dan internet harus dinonaktifkan kembali sebelum pesawat turun.
Gogo, salah satu perusahaan penyedia Wi-Fi di Amerika yang merupakan pihak ketiga dari AirCell menghabiskan biaya sekitar 9,95 USD atau sekitar 120 ribu rupiah untuk perjalanan yang lebih dekat dari jarak 1.150 mil dan akan menghabiskan biaya sekitar 12,95 USD atau sekitar 144 ribu rupiah untuk perjalanan yang lebih jauh lagi. Diharapkan dengan adanya koneksi Wi-Fi ini akan dapat meningkatkan calon penumpang baru yang memiliki notebook ataupun perangkat ponsel khusus.
Inilah Pabrik Pesawat Terbang Terbesar di Dunia
Pabrik Pesawat Terbang Boeing di Everett, Washington, Pinggiran Seattle,
AS merupakan fasilitas pembuatan pesawat terbang terbesar di dunia.
Jauh lebih besar ketimbang pabrik Airbus di Toulouse, Prancis. Pabrik
yang berdiri Juni 1968 ini telah tercatat The Guinness World Records
sebagai pabrik pesawat terbang terbesar di dunia dari sisi volume, yakni
472 juta kaki kubik atau 13,3 juta meter kubik. Tinggi atapnya 114 kaki
(35 meter), sedangkan crane (derek pengangkat di pabrik) terpasang di
ketinggian 90 kaki (28 meter).Ukuran semula pada tahun 1968 hanya 98,3
acre (39,8 hektare), pabrik Boeing terus diperluas sampai beberapa kali
hingga mencapai 1.025 acre (415 hektar) pada 1993 dalam rangka pembuatan
777.
Historic everett Factory on 1968
Historic everett Factory on 1968
Saat ini pabrik tersebut lebih banyak
diperuntukkan sebagai tempat pembuatan pesawat-pesawat Boeing 747, 767,
777, dan 787 (Dreamliner). Pabrik Boeing memiliki tidak kurang dari 25
ribu orang. Di Washington State, Boeing memiliki 72 ribu karyawan. Total
karyawan perusahaan itu lebih dari 150 ribu.
Ini Desain Pesawat Terbang Masa Depan NASA
Pesawat penumpang masa depan NASA (NASA/MIT/Aurora Flight Sciences)
Tak hanya mengurus masalah luar angkasa, Badan Antariksa Amerika
Serikat, NASA juga ikut berkontribusi mengembangkan desain pesawat
penumpang dalam program Fundamental Aeronautic NASA, April 2010.
Melalui penelitian selama 18 bulan, NASA memvisualisasikan pesawat penumpang masa depan. Desain pesawat baru ini akan diterapkan 20-25 tahun dari sekarang.
Ada beberapa ide desain segar -- meski dalam pandangan pertama terlihat kuno.
Alih-alih mengadopsi bentuk pesawat dalam fiksi ilmiah, desain pesawat baru ini tak beda drastis dengan bentuk pesawat yang sudah ada.
Namun, jika dilihat dengan seksama, ada perbedaan signifikan -- terobosan baru ada di kerangka pesawat dan penggunaan teknologi akan membuat pesawat masa depan lebih tenang, tak berisik, lebih bersih, dan efisien bahan bakar. Juga lebih mengedepankan kenyamanan penumpang.
Dengan melihat desain NASA, Anda juga bisa melihat bentuk ultramodern dengan keramik atau gabungan serat, tabung karbon, kabel fiber optik, lapisan kulit pesawat yang bisa memperbaiki diri, mesin listrik hibrida, sayap lipat, badan pesawat terbang dobel, dan jendela virtual.
"Berdiri di depan pesawat masa depan ini, Anda mungkin tak bisa membedakannya dengan pesawat konvensional. Namun, pengembangannya dilakukan secara revolusioner," kata ilmuwan proyek Fundamental Aeronautics Program NASA, Richard Wahls, seperti dimuat laman NASA, Rabu 19 Mei 2010.
"Yang mengagumkan ada pada teknologinya, bukan sekedar bungkus pesawat," kata dia.
Pada Oktober 2008 lalu, NASA menyerukan pada industri dan dunia akademis untuk membayangkan konsep canggih pesawat terbang 2030-an, yang dapat mengantisipasi kebutuhan transportasi udara komersial, tapi efisien dalam menggunakan bahan bakar, juga ramah lingkungan.
NASA tidak menyebut secara pasti apakah pesawat masa depan ini akan digunakan untuk penerbangan domestik atau penerbangan internasional dengan jarak yang lebih jauh.
Empat tim bergabung dalam program ini, yakni,
1. Tim GE Aviation menuangkan konsep pesawat masa depan yang bisa mengangkut 20 penumpang. Pesawat ini bisa mengangkut penumpang dari satu lokasi ke lokasi lain -- diharapkan mengurangi kemacetan di kota metropolis.
Bentuk pesawat ini oval, dengan fitur yang meratakan aliran udara ke seluruh permukaan. Pesawat ini memiliki bahan bakar pembangkit listrik yang canggih. Mesin pesawat tak berisik, bisa lepas landas dalam waktu cepat dan tak memerlukan banyak waktu untuk menaikkan pesawat.
Melalui penelitian selama 18 bulan, NASA memvisualisasikan pesawat penumpang masa depan. Desain pesawat baru ini akan diterapkan 20-25 tahun dari sekarang.
Ada beberapa ide desain segar -- meski dalam pandangan pertama terlihat kuno.
Alih-alih mengadopsi bentuk pesawat dalam fiksi ilmiah, desain pesawat baru ini tak beda drastis dengan bentuk pesawat yang sudah ada.
Namun, jika dilihat dengan seksama, ada perbedaan signifikan -- terobosan baru ada di kerangka pesawat dan penggunaan teknologi akan membuat pesawat masa depan lebih tenang, tak berisik, lebih bersih, dan efisien bahan bakar. Juga lebih mengedepankan kenyamanan penumpang.
Dengan melihat desain NASA, Anda juga bisa melihat bentuk ultramodern dengan keramik atau gabungan serat, tabung karbon, kabel fiber optik, lapisan kulit pesawat yang bisa memperbaiki diri, mesin listrik hibrida, sayap lipat, badan pesawat terbang dobel, dan jendela virtual.
"Berdiri di depan pesawat masa depan ini, Anda mungkin tak bisa membedakannya dengan pesawat konvensional. Namun, pengembangannya dilakukan secara revolusioner," kata ilmuwan proyek Fundamental Aeronautics Program NASA, Richard Wahls, seperti dimuat laman NASA, Rabu 19 Mei 2010.
"Yang mengagumkan ada pada teknologinya, bukan sekedar bungkus pesawat," kata dia.
Pada Oktober 2008 lalu, NASA menyerukan pada industri dan dunia akademis untuk membayangkan konsep canggih pesawat terbang 2030-an, yang dapat mengantisipasi kebutuhan transportasi udara komersial, tapi efisien dalam menggunakan bahan bakar, juga ramah lingkungan.
NASA tidak menyebut secara pasti apakah pesawat masa depan ini akan digunakan untuk penerbangan domestik atau penerbangan internasional dengan jarak yang lebih jauh.
Empat tim bergabung dalam program ini, yakni,
1. Tim GE Aviation menuangkan konsep pesawat masa depan yang bisa mengangkut 20 penumpang. Pesawat ini bisa mengangkut penumpang dari satu lokasi ke lokasi lain -- diharapkan mengurangi kemacetan di kota metropolis.
Bentuk pesawat ini oval, dengan fitur yang meratakan aliran udara ke seluruh permukaan. Pesawat ini memiliki bahan bakar pembangkit listrik yang canggih. Mesin pesawat tak berisik, bisa lepas landas dalam waktu cepat dan tak memerlukan banyak waktu untuk menaikkan pesawat.
2. Pesawat D 8 'double bubble' karya
Massachusetts Institute Technology (MIT) bisa mengangkut 180 orang --
menggabungkan dua badan pesawat memasang tiga mesin jet turbofan di
ekornya dengan posisi naik. Komponan penting pesawat ini adalah
penggunaan material yang ringan dan mesin turbofan dengan rasio bypass
yang ultratinggi.
Tim merancang D8 untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan Boeing 737-800.
Tim merancang D8 untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan Boeing 737-800.
3. Perusahaan Boeing mengembangkan Subsonic Ultra
Green Aircraft Research (SUGAR), pesawat bermesin ganda dengan
teknologi propulsi hibrid. Memiliki badan pesawat seperti tabung dan
sayap yang membantu pesawat naik ke atas. Dibandingkan dengan pesawat
yang ada saat ini, sayap SUGAR lebih panjang, namun bisa dilipat ketika
parkir di bandara.
4. Tim Northrop Grumman meramalkan kebutuhan
terbesar masa depan adalah ketersediaan pesawat yang mengangkut 120
penumpang, dengan ukuran lebih kecil dan hanya membutuhkan landasan pacu
pendek.
Tim menyebut pesawat ini sebagai Silent Efficient Low Emissions Commercial Transport (SELECT). Revolusi SELECT ada pada kinerjanya bukan pada tampilan. (umi)
Tim menyebut pesawat ini sebagai Silent Efficient Low Emissions Commercial Transport (SELECT). Revolusi SELECT ada pada kinerjanya bukan pada tampilan. (umi)
Langganan:
Komentar (Atom)
JUDUL POSTINGAN
Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur
Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan sekto...
-
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta. Terletak d...
-
Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan sekto...
-
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali memiliki sejarah panjang yang dimulai pada masa kolonial Belanda. Pada tahun 1930, p...
